Nominal (Rp.) Rate (%)  
Simpeda < 100.000,- 0 % p.a  
(Bunga Harian ) > 100.000 - 100 Jt 1.00 % Selengkapnya ...
Simanja < 100.000,- 0 % p.a  
(Bunga Terendah) > 100.000 - 100 Jt 1.50 %  
  Nominal (Rp.) Jenis Giro (%)  
Giro Pemda < 100 Juta 0 %  
  > 100 Juta - 1 Milyar 0.75 % Selengkapnya ...
Giro Umum < 50 Juta 0 %  
  > 50 Juta - 500 Juta 0.50 % Selengkapnya ...
         
  Rate
  1 Bln 3 Bln 6 Bln 12 Bln 24 Bln
1 Juta - 100 Juta 5,00% 5,25% 5,75% 6,00% 6,25%
> 100 - 250 Juta 5,05% 5,30% 5,80% 6,05% 6,30%
> 250 - 500 Juta 5,10% 5,35% 5,85% 6,10% 6,35%
> 500 - 1 Milyar 5,15% 5,40% 5,90% 6,15% 6,40%
> 1 Milyar 5,25% 5,50% 6,00% 6,25% 6,50%
No. Jenis Kredit Suku Bunga  
1 Modal Kerja konstruksi 13,00 % p.a  
2. Modal Kerja Perdagangan ( Sistem Angguran ) 13,00 % p.a  
3 Modal Kerja Perdagangan (Revolving/RC) 13,00 % p.a  
      Selengkapnya ...
Home
 
Email Forum Diskusi Kontak Buku Tamu
  SBDK Detail Birate: 6.50% [21-07-16] Kurs: USD-13,442 SGD-9,503 JPY-11,708 GBP-16,345 EUR-14,268 AUD-10,175 SAR-3,585 [15-03-2017] Detail . . .




G-20 Pandang Perekonomian Global Semakin Membaik
Selasa, 4 Maret 2014
Sumber : www.bi.go.id

Untitled Document
​Perekonomian global telah menunjukkan indikasi perbaikan. Hal ini mengemuka dalam Pertemuan G-20 Tingkat Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral (G-20 MGM) yang dihadiri oleh Gubernur Bank Indonesia (BI), Agus D.W. Martowardojo pada tanggal 22 - 23 Februari 2014 di Sydney, Australia.
 
Indikasi perbaikan ekonomi global tersebut tercermin dari penguatan pertumbuhan di Amerika Serikat, Inggris dan Jepang. Selain itu, berlanjutnya pertumbuhan yang kuat di China dan beberapa negara emerging utama serta mulai tumbuhnya perekonomian di kawasan Euro memberikan sinyal yang positif. Namun di sisi lain, G-20 juga memandang masih terdapat tantangan yang harus terus dikelola. Permintaan global yang melemah, tingginya volatilitas di pasar keuangan, tingginya tingkat utang publik, dan berlanjutnya ketidakseimbangan global serta isu vulnerabilitas di beberapa negara emerging masih menjadi pekerjaan rumah bersama.
 
Sebagai upaya konkrit mendorong pertumbuhan ekonomi global, G-20 sepakat untuk menyusun strategi pertumbuhan yang komprehensif (comprehensive growth  strategies) dengan target pertumbuhan yang cukup ambisius. G20 menargetkan pertumbuhan sebesar 2% lebih tinggi di atas proyeksi pertumbuhan saat ini dalam kurun waktu lima tahun ke depan. Target tersebut dinilai cukup ambisius, sehingga perlu diikuti dengan peningkatan kerjasama dan koordinasi antar negara serta langkah-langkah kebijakan di masing-masing negara guna mewujudkan target tersebut.
 
“Bank Indonesia memandang bahwa koordinasi dan collective action tidak hanya diperlukan untuk mengatasi kerentanan terhadap krisis saja, tetapi juga untuk menghapus hambatan-hambatan pertumbuhan. G-20 perlu melakukan upaya lebih keras untuk membawa perekonomian global ke arah fondasi yg lebih kuat, namun perlu menghindari penekanan yang berlebihan terhadap pencapaian pertumbuhan tinggi semata. Aspek kesinambungan dan keseimbangan pertumbuhan perlu tetap diperhatikan”, ujar Agus D.W. Martowardojo. “Kerjasama antara negara anggota G-20, khususnya antara Advanced Economies dengan Emerging Market Economies juga perlu diperkuat dengan tetap memperhatikan sequence yang tepat”, tambahnya. Agus D.W. Martowardojo juga meminta agar negara-negara maju tetap menjaga komitmen dan berhati-hati dalam mengkalibrasikan kebijakan moneter, serta lebih jelas dan transparan dalam mengkomunikasikan arah kebijakan kedepan (forward guidance). 
 
Selain pertemuan G-20 MGM, Gubernur BI juga menghadiri pertemuan BIS (Bank for International Settlements) untuk membahas perekonomian global terkini dengan fokus pada membaiknya perekonomian di negara maju paska krisis 2008 dan implikasinya terhadap kebijakan moneter. Pada pertemuan ini, forum BIS sepakat untuk tetap mencermati risiko-risiko yang berpotensi menghambat pemulihan ekonomi.
 
Dalam lawatan tersebut, Gubernur BI juga melakukan pertemuan bilateral dengan Bank Sentral beberapa negara anggota G-20, yakni Australia, Korea Selatan dan China. Pertemuan ini dilakukan untuk meningkatkan kerjasama bilateral antar bank sentral dalam mengantisipasi berbagai perkembangan perekonomian global, khususnya dalam memperkuat upaya-upaya pencegahan dan penanggulangan krisis. Secara umum, terdapat kesamaan pandangan dengan bank sentral negara-negara tersebut mengenai perlunya peningkatan kerjasama bilateral dalam mengantisipasi berbagai perkembangan perekonomian global dewasa ini.
 
Beberapa Catatan dari Pertemuan G-20 MGM Sydey Australia
 
Negara-negara G-20 menyadari bahwa investasi khususnya untuk pengembangan infrastruktur menjadi salah satu kunci mendorong pertumbuhan ekonomi global. Reformasi kebijakan dalam mereduksi hambatan investasi swasta menjadi prioritas utama G-20 disamping langkah-langkah lebih lanjut dalam optimalisasi dampak belanja pemerintah untuk infrastruktur dan meningkatkan peran Multilateral Development Banks.
 
Terkait dengan reformasi IMF (International Monetary Fund), G-20 menyatakan penyesalannya bahwa agenda penyelesaian the 15th General Review of Quotas  tidak tercapai sesuai target, yakni di Januari 2014. G-20 mendesak Amerika Serikat untuk segera melakukan ratifikasi reformasi IMF 2010 sebelum April 2014 sehingga target penyelesaian the 15th General Review of Quotas yang lebih adil dalam merepresentasikan keterwakilan negara berkembang diharapkan dapat dicapai pada Januari 2015. Bank Indonesia dalam hal ini mengharapkan tercapainya perkembangan yang berarti dalam upaya reformasi IMF tersebut pada tahun 2014 ini.
 
Pada agenda sektor keuangan, G-20 akan meneruskan reformasi untuk meningkatkan ketahanan lembaga keuangan terhadap krisis, mengatasi risiko sistemik yang disebabkan oleh kegagalan lembaga keuangan besar, mengatasi risiko shadow banking dan melanjutkan agenda reformasi pasar keuangan derivatif.
 
Terkait upaya penguatan regulasi sektor keuangan, Bank Indonesia memandang perlunya analisis mendalam dan komprehensif guna menjamin kualitas dan penerapan rekomendasi yang nantinya akan dimasukkan dalam Brisbane Action Plan, namun dengan tetap memperhatikan perbedaan tahapan perkembangan sektor keuangan masing-masing negara.
 
 
 
Copyright © Bank Papua 2010  
   
Jl. Ahmad Yani no. 5-7 Jayapura - Papua - Indonesia  
Kode pos : 99111