Nominal (Rp.) Rate (%)  
Simpeda < 100.000,- 0 % p.a  
(Bunga Harian ) > 100.000 - 100 Jt 1.00 % Selengkapnya ...
Simanja < 100.000,- 0 % p.a  
(Bunga Terendah) > 100.000 - 100 Jt 1.50 %  
  Nominal (Rp.) Jenis Giro (%)  
Giro Pemda < 100 Juta 0 %  
  > 100 Juta - 1 Milyar 0.75 % Selengkapnya ...
Giro Umum < 50 Juta 0 %  
  > 50 Juta - 500 Juta 0.50 % Selengkapnya ...
         
  Rate
  1 Bln 3 Bln 6 Bln 12 Bln 24 Bln
1 Juta - 100 Juta 5,00% 5,25% 5,75% 6,00% 6,25%
> 100 - 250 Juta 5,05% 5,30% 5,80% 6,05% 6,30%
> 250 - 500 Juta 5,10% 5,35% 5,85% 6,10% 6,35%
> 500 - 1 Milyar 5,15% 5,40% 5,90% 6,15% 6,40%
> 1 Milyar 5,25% 5,50% 6,00% 6,25% 6,50%
No. Jenis Kredit Suku Bunga  
1 Modal Kerja konstruksi 13,00 % p.a  
2. Modal Kerja Perdagangan ( Sistem Angguran ) 13,00 % p.a  
3 Modal Kerja Perdagangan (Revolving/RC) 13,00 % p.a  
      Selengkapnya ...
Home
 
Email Forum Diskusi Kontak Buku Tamu
  SBDK Detail Birate: 6.50% [21-07-16] Kurs: USD-13,391 SGD-9,595 JPY-12,029 GBP-16,786 EUR-14,301 AUD-10,198 SAR-3,570 [03-04-2017] Detail . . .




BI: Pertumbuhan ekonomi tertolong konsumsi rumah tangga
Kamis, 7 Agustus 2014
Sumber : www.merdeka.com

Untitled Document

Merdeka.com - Bank Indonesia menegaskan realisasi pertumbuhan PDB, lebih rendah dari perkiraan Bank Indonesia. Pertumbuhan ekonomi triwulan II 2014, tercatat 5,12 persen (year on year), melambat dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi pada triwulan I 2014, sebesar 5,22 persen (year on year).

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Tirta Segara mengatakan perlambatan disebabkan kontraksi pada pertumbuhan ekspor komoditas berbasis sumber daya alam. Hal ini akibat, akibat kebijakan pelarangan ekspor mineral mentah, sementara ekspor komoditas batu bara dan CPO menghadapi pelemahan permintaan.

"Dari sisi domestik, perlambatan pertumbuhan ekonomi terutama bersumber dari terkontraksinya belanja pemerintah dan kegiatan investasi non bangunan. Penangguhan penyaluran dana bantuan sosial (Bansos) mengakibatkan turunnya belanja barang dalam rangka pemberdayaan masyarakat," katanya dalam siaran persnya, Rabu (9/8).

Perlambatan tersebut, didorong kontraksi konsumsi pemerintah. Sementara itu, pertumbuhan investasi non bangunan negatif terutama disebabkan oleh investasi alat angkutan luar negeri yang masih kontraksi sejalan dengan kinerja ekspor tambang yang belum membaik.

BI memaparkan, pertumbuhan ekonomi triwulan II 2014 ditopang oleh kinerja konsumsi rumah tangga yang masih kuat antara lain sebagai dampak dari pelaksanaan pemilihan umum. Hal ini tercermin membaiknya kinerja industri makanan minuman dan industri kertas.

"Investasi bangunan juga masih tumbuh cukup baik. Sementara itu, impor yang menurun akibat moderasi permintaan domestik membantu mengurangi tekanan eksternal akibat penurunan ekspor," katanya.

Tetapi, kata Titra, Bank Indonesia menilai perlambatan pertumbuhan ekonomi di triwulan II 2014, masih sejalan dengan langkah pengelolaan stabilisasi makro ekonomi yang dilakukan oleh Bank Indonesia bersama Pemerintah selama ini, terutama untuk mengendalikan inflasi dan defisit transaksi berjalan.

"Bank Indonesia akan terus memonitor berbagai perkembangan baik domestik maupun eksternal dan memastikan agar dinamika perekonomian nasional ke depan berjalan dengan sehat dan berkelanjutan," katanya.

 
 
 
Copyright © Bank Papua 2010  
   
Jl. Ahmad Yani no. 5-7 Jayapura - Papua - Indonesia  
Kode pos : 99111