Nominal (Rp.) Rate (%)  
Simpeda < 100.000,- 0 % p.a  
(Bunga Harian ) > 100.000 - 100 Jt 1.00 % Selengkapnya ...
Simanja < 100.000,- 0 % p.a  
(Bunga Terendah) > 100.000 - 100 Jt 1.50 %  
  Nominal (Rp.) Jenis Giro (%)  
Giro Pemda < 100 Juta 0 %  
  > 100 Juta - 1 Milyar 0.75 % Selengkapnya ...
Giro Umum < 50 Juta 0 %  
  > 50 Juta - 500 Juta 0.50 % Selengkapnya ...
         
  Rate
  1 Bln 3 Bln 6 Bln 12 Bln 24 Bln
1 Juta - 100 Juta 5,00% 5,25% 5,75% 6,00% 6,25%
> 100 - 250 Juta 5,05% 5,30% 5,80% 6,05% 6,30%
> 250 - 500 Juta 5,10% 5,35% 5,85% 6,10% 6,35%
> 500 - 1 Milyar 5,15% 5,40% 5,90% 6,15% 6,40%
> 1 Milyar 5,25% 5,50% 6,00% 6,25% 6,50%
No. Jenis Kredit Suku Bunga  
1 Modal Kerja konstruksi 13,00 % p.a  
2. Modal Kerja Perdagangan ( Sistem Angguran ) 13,00 % p.a  
3 Modal Kerja Perdagangan (Revolving/RC) 13,00 % p.a  
      Selengkapnya ...
Home
 
Email Forum Diskusi Kontak Buku Tamu
  SBDK Detail Birate: 6.50% [21-07-16] Kurs: USD-13,442 SGD-9,503 JPY-11,708 GBP-16,345 EUR-14,268 AUD-10,175 SAR-3,585 [15-03-2017] Detail . . .




BI: Indonesia siap hadapi krisis ekonomi kapanpun
Kamis, 18 September 2014
Sumber : www.merdeka.com

Untitled Document

Merdeka.com - Bank Indonesia mempersiapkan semua instrumen menghindarkan terjadi krisis ekonomi yang bisa terjadi sewaktu-waktu. Sesuai data Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia, Indonesia berada di peringkat ke-6 di antara negara berkembang, dalam kapasitas menghadapi goncangan perekonomian. Atas dasar itu, rencana Bank Sentral Amerika Serikat menaikkan Fed Fund Rate pada pertengahan 2015 bukan ancaman yang terlalu bisa melemahkan Indonesia.
Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo menyatakan, posisi Indonesia membaik dari peringkat 11 di awal tahun lalu. Walau ada perbaikan, dia menilai otoritas moneter bersama pemerintah tidak boleh berleha-leha.

"Indonesia lebih baik dibanding negara berkembang lain, tapi Indonesia juga tidak terlalu kuat. Maka menghadapi ancaman 2015, khususnya pada pertengahan tahun, kita harus sangat hati-hati," ujarnya di Kantor Bank Indonesia, Jakarta, Kamis (18/9).

Negara berkembang lain yang peringkatnya masih di bawah Indonesia, misalnya Argentina dan Turki. Keduanya tahun ini mengalami krisis ekonomi akibat mengalami gagal bayar surat utang pemerintah.

Agus menjelaskan di era globalisasi dan saling terhubungnya lembaga keuangan sedunia, krisis ekonomi dapat terjadi di mana saja. Bahkan negara yang tidak punya hubungan dagang erat dengan Indonesia bisa menularkan penyakit dari sektor finansial.

"Dulu krisis biasanya terjadi setiap 10 tahun. Kini bahkan setiap tahun ada krisis, dari krisis 2008, berlanjut krisis Eropa, lalu tahun lalu kita juga kena karena masuk tappering," ungkapnya.

Oleh sebab itu, dibanding terlalu khawatir menghadapi rencana the Fed menaikkan suku bunga, BI mengajak pemerintah, bankir, dan seluruh pihak memperbaiki fundamental ekonomi. Langkah ini akan lebih efektif menghadapi guncangan eksternal apapun wujudnya.

"Sebuah perekonomian yang mampu mengelola indikator seperti defisit anggaran negara, defisit neraca pembayaran, dan rasio utang terhadap kemampuan membayar, umumnya lebih baik dalam menghadapi krisis," urainya.

Gubernur BI menyimpulkan, hal-hal yang melemahkan daya tahan Indonesia adalah impor minyak tinggi yang membuat defisit transaksi berjalan terjadi 11 triwulan terakhir. Ini masih ditambah dangkalnya pasar uang domestik, sehingga ketergantungan pada investor asing terlalu besar. Terutama yang bersumber pada saham dan portofolio negara.

"Tingginya kepemilikan asing dalam surat berharga negara, memang kita akui berpotensi terjadi aksi rebalancing ketika nanti bunga di Amerika lebih tinggi. Itu dapat menyebabkan tekanan kurs yang signifikan," kata Agus.

BI melansir tiga kebijakan baru, yakni mempermudah transaksi valas antar bank dan debitur dalam negeri, antara bank dengan asing, serta kemudahan bank memberikan lindung nilai pada klien. Semua inovasi itu, menurut Agus, bisa memicu pendalaman pasar valas domestik. Dampak positifnya, ketahanan Indonesia menghadapi krisis meningkat.
 

 
 
 
Copyright © Bank Papua 2010  
   
Jl. Ahmad Yani no. 5-7 Jayapura - Papua - Indonesia  
Kode pos : 99111