Nominal (Rp.) Rate (%)  
Simpeda < 100.000,- 0 % p.a  
(Bunga Harian ) > 100.000 - 100 Jt 1.00 % Selengkapnya ...
Simanja < 100.000,- 0 % p.a  
(Bunga Terendah) > 100.000 - 100 Jt 1.50 %  
  Nominal (Rp.) Jenis Giro (%)  
Giro Pemda < 100 Juta 0 %  
  > 100 Juta - 1 Milyar 0.75 % Selengkapnya ...
Giro Umum < 50 Juta 0 %  
  > 50 Juta - 500 Juta 0.50 % Selengkapnya ...
         
  Rate
  1 Bln 3 Bln 6 Bln 12 Bln 24 Bln
1 Juta - 100 Juta 5,00% 5,25% 5,75% 6,00% 6,25%
> 100 - 250 Juta 5,05% 5,30% 5,80% 6,05% 6,30%
> 250 - 500 Juta 5,10% 5,35% 5,85% 6,10% 6,35%
> 500 - 1 Milyar 5,15% 5,40% 5,90% 6,15% 6,40%
> 1 Milyar 5,25% 5,50% 6,00% 6,25% 6,50%
No. Jenis Kredit Suku Bunga  
1 Modal Kerja konstruksi 13,00 % p.a  
2. Modal Kerja Perdagangan ( Sistem Angguran ) 13,00 % p.a  
3 Modal Kerja Perdagangan (Revolving/RC) 13,00 % p.a  
      Selengkapnya ...
Home
 
Email Forum Diskusi Kontak Buku Tamu
  SBDK Detail Birate: 6.50% [21-07-16] Kurs: USD-13,391 SGD-9,595 JPY-12,029 GBP-16,786 EUR-14,301 AUD-10,198 SAR-3,570 [03-04-2017] Detail . . .




AS Naikkan Suku Bunga, RI Beri Perhatian Khusus
Senin, 6 Oktober 2014
Sumber : www.okezone.com

Untitled Document

JAKARTA - Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus DW Martowardojo bersepakat bahwa dalam menghadapi kebijakan normalisasi bank sentral, Amerika Serikat (AS) the Fed dibutuhkan beberapa persiapan yang matang. Walaupun secara keseluruhan, kondisi pasar keuangan saat ini tergolong cukup baik.
Menurut Agus, dalam menghadapi normalisasi ini, pemerintah perlu melakukan perhatian untuk meningkatkan pada struktural ekonomi Indonesia.
"Secara umum kita sepakat bahwa perkembangan global khususnya normalisasi kebijakan the Fed, dengan meningkat Fed Funds Rate, perlu ada perhatian khusus," ucap Agus saat konferensi pers di Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (6/10/2014).
Agus menjelaskan, yang perlu ditingkatkan untuk mengantisipasi hal ini adalah menjaga inflasi di angka yang sudah ditetapkan. Kemudian upaya secara  teratur untuk mengatasi defisit transaksi berjalan
"Meskipun kondisi ekonomi kita membaik dan 2014 mengalami perbaikan, ini perlu terus diupayakan untuk menjaga kebijakan fiskal," sambung Agus.
Mengenai melemahnya nilai tukar Rupiah, Agus mengungkapkan bahwa hal ini terjadi karena menguatnya mata uang dolar AS
"Untuk Indonesia, selama kuartal III-2014, memang terjadi depresiasi, kurang lebih 0,12 persen year to date (ytd), secara month to month 1,57 persen," kata Agus.
Agus mengungkapkan, bahwa hal ini masih sejalan dengan negara-negara lain. Namun ini juga harus diperhatikan.
"Secara umum, ini upaya pendalaman pasar keuangan, akan dilakukan secara bersama-sama oleh Bank Indonesia, Kementerian Keuangan dan Otoritas Jasa Keuangan," paparnya.
Agus meyakini, bahwa dengan cara tersebut, Indonesia akan siap menghadapi tantangan ekonomi ke depannya yang tidak stabil seperti sekarang.
"Meskipun saya bilang, kondisi industri keuangan nasional  saat ini sedang dalam keadaan baik, namun kita tetap harus memberikan perhatian terutama untuk sektor-sektor yang sedang anjlok seperti rupiah. Agar bisa kembali membaik," pungkasnya.

 
 
 
Copyright © Bank Papua 2010  
   
Jl. Ahmad Yani no. 5-7 Jayapura - Papua - Indonesia  
Kode pos : 99111