Nominal (Rp.) Rate (%)  
Simpeda < 100.000,- 0 % p.a  
(Bunga Harian ) > 100.000 - 100 Jt 1.00 % Selengkapnya ...
Simanja < 100.000,- 0 % p.a  
(Bunga Terendah) > 100.000 - 100 Jt 1.50 %  
  Nominal (Rp.) Jenis Giro (%)  
Giro Pemda < 100 Juta 0 %  
  > 100 Juta - 1 Milyar 0.75 % Selengkapnya ...
Giro Umum < 50 Juta 0 %  
  > 50 Juta - 500 Juta 0.50 % Selengkapnya ...
         
  Rate
  1 Bln 3 Bln 6 Bln 12 Bln 24 Bln
1 Juta - 100 Juta 5,00% 5,25% 5,75% 6,00% 6,25%
> 100 - 250 Juta 5,05% 5,30% 5,80% 6,05% 6,30%
> 250 - 500 Juta 5,10% 5,35% 5,85% 6,10% 6,35%
> 500 - 1 Milyar 5,15% 5,40% 5,90% 6,15% 6,40%
> 1 Milyar 5,25% 5,50% 6,00% 6,25% 6,50%
No. Jenis Kredit Suku Bunga  
1 Modal Kerja konstruksi 13,00 % p.a  
2. Modal Kerja Perdagangan ( Sistem Angguran ) 13,00 % p.a  
3 Modal Kerja Perdagangan (Revolving/RC) 13,00 % p.a  
      Selengkapnya ...
Home
 
Email Forum Diskusi Kontak Buku Tamu
  SBDK Detail Birate: 6.50% [21-07-16] Kurs: USD-13,442 SGD-9,503 JPY-11,708 GBP-16,345 EUR-14,268 AUD-10,175 SAR-3,585 [15-03-2017] Detail . . .




BI : pemulihan global tidak terjadi secara merata
Kamis, 6 Nopember 2014
Sumber : www.antaranews.com

Untitled Document

Surabaya (ANTARA News) - Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo mengatakan pemulihan ekonomi global tidak terjadi secara merata, karena sebagian besar negara maju maupun berkembang masih mengalami perlambatan.

"Perbaikan ekonomi negara tidak ada yang sama, ada yang maju seperti Amerika Serikat, tapi Eropa maupun Jepang belum ada perbaikan," katanya di Surabaya, Kamis.

Agus mengatakan perlambatan ekonomi tersebut ikut terjadi di Indonesia, apalagi harga komoditas global sedang mengalami penurunan, sehingga mempengaruhi kinerja ekspor nasional.

"Di negara berkembang terjadi penurunan ekonomi dan penurunan harga komoditas ikut memberikan pengaruh," katanya.

Agus mengatakan kondisi perlemahan perekonomian global menjadi salah satu pembahasan dalam pertemuan Gubernur Bank Sentral dan Otoritas Moneter negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).

Para peserta forum kemudian sepakat bahwa Bank Sentral dan Otoritas Moneter harus mengantisipasi kemungkinan tekanan keuangan global dalam bentuk kebijakan dan infrastruktur pendukung yang tepat.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam pertemuan itu untuk mengatasi risiko keuangan dan menciptakan stabilitas sistem keuangan adalah dengan menerapkan kebijakan makroprudensial yang efektif.

"Tahun 2013 kami menggunakan bauran kebijakan untuk menjaga Indonesia dari guncangan akibat pengumuman tapering off. Tahun 2014 situasi jauh lebih baik karena ada koordinasi antara BI dengan pemerintah," kata Agus.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I mencapai 5,21 persen dan pertumbuhan ekonomi pada triwulan II sebesar 5,12 persen.

Dengan pertumbuhan ekonomi triwulan III hanya tercatat sebesar 5,01 persen, berarti pertumbuhan ekonomi nasional masih berada pada kisaran 5,1 persen atau jauh dari asumsi dalam APBN-Perubahan 2014 sebesar 5,5 persen.

Sementara, Bank Indonesia pernah memprediksi target pertumbuhan ekonomi 2014 berada pada angka perkiraan 5,1 persen-5,5 persen, dengan kecenderungan pada batas bawah.

 

 
 
 
Copyright © Bank Papua 2010  
   
Jl. Ahmad Yani no. 5-7 Jayapura - Papua - Indonesia  
Kode pos : 99111