Nominal (Rp.) Rate (%)  
Simpeda < 100.000,- 0 % p.a  
(Bunga Harian ) > 100.000 - 100 Jt 1.00 % Selengkapnya ...
Simanja < 100.000,- 0 % p.a  
(Bunga Terendah) > 100.000 - 100 Jt 1.50 %  
  Nominal (Rp.) Jenis Giro (%)  
Giro Pemda < 100 Juta 0 %  
  > 100 Juta - 1 Milyar 0.75 % Selengkapnya ...
Giro Umum < 50 Juta 0 %  
  > 50 Juta - 500 Juta 0.50 % Selengkapnya ...
         
  Rate
  1 Bln 3 Bln 6 Bln 12 Bln 24 Bln
1 Juta - 100 Juta 5,00% 5,25% 5,75% 6,00% 6,25%
> 100 - 250 Juta 5,05% 5,30% 5,80% 6,05% 6,30%
> 250 - 500 Juta 5,10% 5,35% 5,85% 6,10% 6,35%
> 500 - 1 Milyar 5,15% 5,40% 5,90% 6,15% 6,40%
> 1 Milyar 5,25% 5,50% 6,00% 6,25% 6,50%
No. Jenis Kredit Suku Bunga  
1 Modal Kerja konstruksi 13,00 % p.a  
2. Modal Kerja Perdagangan ( Sistem Angguran ) 13,00 % p.a  
3 Modal Kerja Perdagangan (Revolving/RC) 13,00 % p.a  
      Selengkapnya ...
Home
 
Email Forum Diskusi Kontak Buku Tamu
  SBDK Detail Birate: 6.50% [21-07-16] Kurs: USD-13,391 SGD-9,595 JPY-12,029 GBP-16,786 EUR-14,301 AUD-10,198 SAR-3,570 [03-04-2017] Detail . . .




Kebijakan Uang Ketat Masih Diperlukan Jaga Stabilitas
Senin, 17 Nopember 2014
Sumber : www.medanbisnisdaily.com

Untitled Document

MedanBisnis - Jakarta .Ekonom DBS Research Group Gundy Cahyadi menilai kebijakan uang ketat dari Bank Indonesia masih terus diperlukan untuk menjaga stabilitas ekonomi, meskipun laju inflasi dalam beberapa bulan terakhir relatif rendah.

"'Tight monetary policy' masih perlu untuk jaga kesatabilan sistem finansial," kata Gundy di Jakarta, pekan lalu.

Gundy tidak menampik bahawa terkendalinya laju inflasi dalam beberapa bulan terakhir, memberikan peluang bagi otoritas moneter untuk menaikkan suku bunga acuan (BI Rate). Namun, menurut dia, antisipasi tetap harus dilakukan Bank Indonesia, karena kata dia, laju inflasi dalam beberapa waktu ke depan akan terus naik. "Inflasi toh trendingnya akan kembali naik menuju tahun depan," ucapnya.

Riset DBS Group mengemukakan, inflasi mencapai 7%, jika pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubidi dengan besaran Rp 1.500-Rp 2.000. Besaran tersebut menjadi rekomendasi DBS, karena dampaknya dianggap tidak terlalu besar bagi daya beli masyarakat dan juga ke sektor finansial. BI pun, menurut Gundy, tidak perlu menaikkan tingkat suku bunga acuan. Pertumbuhan ekonomi, dengan besaran kenaikan harga BBM seperti itu, Gundy perkirakan akan berada di lima persen. "Namun, dampak inflasi itu hanya tiga hingga empat bulan," ujar dia.

Namun, jika pemerintah menaikkan harga BBM dengan besaran Rp3.000, seperti wacana yang beredar, BI perlu menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin. Sebelumnya, Gubernur BI Agus Martowardojo menegaskan tingkat suku bunga acuan masih dipertahankan di 7,5% sejak setahun terakhir. Kebijakan moneter yang dilakukan BI selama ini, menurut Agus, telah mampu menjaga stabilitas makro ekonomi, dan sistem keuangan, serta mendukung proses penyesuaian ekonomi ke arah yang lebih seimbang. (ant)

 
 
 
Copyright © Bank Papua 2010  
   
Jl. Ahmad Yani no. 5-7 Jayapura - Papua - Indonesia  
Kode pos : 99111