Nominal (Rp.) Rate (%)  
Simpeda < 100.000,- 0 % p.a  
(Bunga Harian ) > 100.000 - 100 Jt 1.00 % Selengkapnya ...
Simanja < 100.000,- 0 % p.a  
(Bunga Terendah) > 100.000 - 100 Jt 1.50 %  
  Nominal (Rp.) Jenis Giro (%)  
Giro Pemda < 100 Juta 0 %  
  > 100 Juta - 1 Milyar 0.75 % Selengkapnya ...
Giro Umum < 50 Juta 0 %  
  > 50 Juta - 500 Juta 0.50 % Selengkapnya ...
         
  Rate
  1 Bln 3 Bln 6 Bln 12 Bln 24 Bln
1 Juta - 100 Juta 5,00% 5,25% 5,75% 6,00% 6,25%
> 100 - 250 Juta 5,05% 5,30% 5,80% 6,05% 6,30%
> 250 - 500 Juta 5,10% 5,35% 5,85% 6,10% 6,35%
> 500 - 1 Milyar 5,15% 5,40% 5,90% 6,15% 6,40%
> 1 Milyar 5,25% 5,50% 6,00% 6,25% 6,50%
No. Jenis Kredit Suku Bunga  
1 Modal Kerja konstruksi 13,00 % p.a  
2. Modal Kerja Perdagangan ( Sistem Angguran ) 13,00 % p.a  
3 Modal Kerja Perdagangan (Revolving/RC) 13,00 % p.a  
      Selengkapnya ...
Home
 
Email Forum Diskusi Kontak Buku Tamu
  SBDK Detail Birate: 6.50% [21-07-16] Kurs: USD-13,391 SGD-9,595 JPY-12,029 GBP-16,786 EUR-14,301 AUD-10,198 SAR-3,570 [03-04-2017] Detail . . .




Berikut Ini Beberapa Risiko Perbankan yang Diwaspadai BI
Selasa, 9 Desember 2014
Sumber : http://www.infobanknews.com

Untitled Document

Jakarta–Bank Indonesia (BI) mengaku masih mengkhawatirkan beberapa risiko yang menjadi momok bagi industri perbankan hingga akhir 2014 maupun pada 2015 mendatang. Pasalnya, likuiditas dan kredit macet (Non Performing Loan/NPL) menjadi risiko utama bagi perbankan nasional.

Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial BI, Darsono mengatakan, sejauh ini pihaknya bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus mewaspadai kedua risiko tersebut. Menurutnya, likuiditas hingga akhir tahun dan tahun depan diperkirakan masih sedikit mengetat, sedangkan NPL diperkirakan akan lebih tinggi bila dibandingkan dengan NPL pada 2013 lalu.

“Risiko likuiditas dan NPL, saat ini kami dan OJK terus berkoordinasi untuk konsen dan memantau terhadap risiko-risiko ini, kita punya alat untuk memonitor detik demi detik. Kita harus terus mencermati apakah risiko ini terhadap bank-bank dikarenakan faktor teknis atau apa,” ujar Darsono, di Gedung BI, Jakarta, Selasa, 9 Desember 2014.

Menurutnya, sumber-sumber ketidakseimbangan likuiditas juga terkait dengan ekspansi kredit bank yang dikelola dengan baik. Oleh sebab itu, BI dan OJK harus dapat melihat bagaimana kondisi kredit dan bagaimana kondisi NPL perbankan. “itu kita monitor terus, karena risiko bank itu bukan saja berasal dari banknya itu sendiri, tapi bisa juga dari debiturnya yakni korporasi,” tukas Darsono.

Adanya kondisi tersebut, maka pihaknya juga bakal mencermati lebih dekat para debitur-debitur nakal (korporasi) yang menyebabkan kredit macet pada suatu bank. Selain itu, BI dan OJK juga akan melihat apakah perusahaan korporasi tersebut memiliki nilai yang baik atau tidak dari segi utangnya. “Leverage-nya masih wajar atau tidak, apakah korporasi tertentu rentan terhadap risiko-risiko tertentu apa tidak. Kita sudah ukur daya tahan korporasi kita seperti apa,” ucapnya.

Selain di sektor korporasi, BI juga mewaspadai penyaluran kredit di sektor rumah tangga seperti kredit pemilikan rumah (KPR). “Itu ada kelompok masyarakat tertentu yang berpendapatan tertentu tingkat keberhutangan sudah cukup tinggi, sehingga ini patut terus dimonitor jangan sampai nanti semangat utang, nah ketika ada gekolak-gejolak yang terjadi, menjadi tidak memenuhi kewajibannya, ini juga kita atur,” papar Darsono.

Sementara itu, tingkat permodalan perbankan juga menjadi risiko tertentu bagi BI. Pihaknya bakal terus memonitor segi permodalan perbankan yang dirasa cukup mengkhawatirkan untuk bersaing dengan bank-bank asing. “Ketahanan permodalan kita harus betul-betul kita jaga dengan baik, terutama tekanan-tekanan baik dari domestik maupun dari external yang luar biasa,” tutupnya. (*)

 
 
 
Copyright © Bank Papua 2010  
   
Jl. Ahmad Yani no. 5-7 Jayapura - Papua - Indonesia  
Kode pos : 99111