Nominal (Rp.) Rate (%)  
Simpeda < 100.000,- 0 % p.a  
(Bunga Harian ) > 100.000 - 100 Jt 1.00 % Selengkapnya ...
Simanja < 100.000,- 0 % p.a  
(Bunga Terendah) > 100.000 - 100 Jt 1.50 %  
  Nominal (Rp.) Jenis Giro (%)  
Giro Pemda < 100 Juta 0 %  
  > 100 Juta - 1 Milyar 0.75 % Selengkapnya ...
Giro Umum < 50 Juta 0 %  
  > 50 Juta - 500 Juta 0.50 % Selengkapnya ...
         
  Rate
  1 Bln 3 Bln 6 Bln 12 Bln 24 Bln
1 Juta - 100 Juta 5,00% 5,25% 5,75% 6,00% 6,25%
> 100 - 250 Juta 5,05% 5,30% 5,80% 6,05% 6,30%
> 250 - 500 Juta 5,10% 5,35% 5,85% 6,10% 6,35%
> 500 - 1 Milyar 5,15% 5,40% 5,90% 6,15% 6,40%
> 1 Milyar 5,25% 5,50% 6,00% 6,25% 6,50%
No. Jenis Kredit Suku Bunga  
1 Modal Kerja konstruksi 13,00 % p.a  
2. Modal Kerja Perdagangan ( Sistem Angguran ) 13,00 % p.a  
3 Modal Kerja Perdagangan (Revolving/RC) 13,00 % p.a  
      Selengkapnya ...
Home
 
Email Forum Diskusi Kontak Buku Tamu
  SBDK Detail Birate: 6.50% [21-07-16] Kurs: USD-13,442 SGD-9,503 JPY-11,708 GBP-16,345 EUR-14,268 AUD-10,175 SAR-3,585 [15-03-2017] Detail . . .




Perbankan Perlu Giatkan Edukasi Nasabah
Rabu, 7 Januari 2015
Sumber : http://www.republika.co.id

Untitled Document

Sepanjang 2014, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menerima aduan mengenai industri jasa keuangan hingga ribuan kasus. Jumlah tepatnya mencapai 2.159 aduan. Dari jumlah itu, lebih dari separuh atau 53 persennya merupakan aduan nasabah perbankan.

Jumlah aduan konsumen industri keuangan itu diakui Deputi Komisioner OJK Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen, Sri Rahayu Widodo, memang relatif tinggi. Aduan mengenai perbankan relatif tinggi karena sektor tersebut mendominasi di industri keuangan. "Pengaduan terbanyak mengenai strukturisasi kredit dan jaminan, seputar itu," ujar Sri di Jakarta, Senin (5/1).

Tingginya kasus aduan tersebut, menurut Sri, terjadi akibat nasabah yang lalai. Mereka belum memahami aturan dalam menggunakan jasa keuangan. Bisa jadi, ia mengungkapkan, nasabah tidak membaca dengan teliti akad-akad atau kesepakatan ketika menggunakan jasa keuangan.

Nasabah diduga juga tidak mengetahui klausul-klausul ketika menggunakan jasa keuangan. "Ada nasabah yang tidak paham persis sebelum tanda tangan akad, misalnya harus membayar cicilan tepat waktu, kalau tidak akan ada bunga, atau denda," katanya.

Banyaknya aduan itu, menurutnya, juga terjadi karena semakin banyak nasabah menggunakan jasa keuangan. Karena itu, ke depan aduan diperkirakan bertambah. Maka dari itu, ia mengungkapkan, literasi keuangan kian penting. Pemberi jasa keuangan pun dinilai wajib memberikan edukasi kepada masyarakat. Hal ini agar produk keuangan bisa dipahami masyarakat dengan baik.

Meski demikian, Sri mengatakan bahwa sejumlah layanan pengaduan yang diberikan oleh OJK cukup diselesaikan secara damai antara nasabah dan pihak penyelenggara layanan keuangan. Proses penyelesaiannya hanya verifikasi dan klarifikasi, tidak sampai tahap mediasi. Namun, ini juga menjadi tanda bahwa belum semua masyarakat teredukasi dengan baik mengenai produk keuangan yang mereka pilih.

Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D Hadad mengatakan bahwa literasi keuangan masih menjadi salah satu agenda utama OJK pada 2015. Otoritas akan meningkatkan literasi keuangan kepada masyarakat kecil.

Selain fokus pada literasi keuangan, OJK memiliki beberapa agenda lain yang menjadi prioritas. Kebijakan pelayanan keuangan tanpa kantor atau branchless banking akan terus dilanjutkan ke tengah masyarakat. Selain itu, OJK akan mengembangkan asuransi mikro. "Intinya, kita membuka akses keuangan pada sektor mikro lebih besar lagi," ujarnya.

Muliaman menambahkan bahwa OJK akan fokus untuk mencari alternatif pembiayaan jangka panjang, seperti untuk pembangunan infrastruktur. Kegiatan dalam industri keuangan nonbank (IKNB) akan terus didorong, terutama untuk menumbuhkan industri modal ventura. Industri pembiayaan akan diberi keluasaan lebih untuk fleksibel dan berkembang dalam melakukan kegiatan pembiayaan. N ed: nur aini

 
 
 
Copyright © Bank Papua 2010  
   
Jl. Ahmad Yani no. 5-7 Jayapura - Papua - Indonesia  
Kode pos : 99111