Nominal (Rp.) Rate (%)  
Simpeda < 100.000,- 0 % p.a  
(Bunga Harian ) > 100.000 - 100 Jt 1.00 % Selengkapnya ...
Simanja < 100.000,- 0 % p.a  
(Bunga Terendah) > 100.000 - 100 Jt 1.50 %  
  Nominal (Rp.) Jenis Giro (%)  
Giro Pemda < 100 Juta 0 %  
  > 100 Juta - 1 Milyar 0.75 % Selengkapnya ...
Giro Umum < 50 Juta 0 %  
  > 50 Juta - 500 Juta 0.50 % Selengkapnya ...
         
  Rate
  1 Bln 3 Bln 6 Bln 12 Bln 24 Bln
1 Juta - 100 Juta 5,00% 5,25% 5,75% 6,00% 6,25%
> 100 - 250 Juta 5,05% 5,30% 5,80% 6,05% 6,30%
> 250 - 500 Juta 5,10% 5,35% 5,85% 6,10% 6,35%
> 500 - 1 Milyar 5,15% 5,40% 5,90% 6,15% 6,40%
> 1 Milyar 5,25% 5,50% 6,00% 6,25% 6,50%
No. Jenis Kredit Suku Bunga  
1 Modal Kerja konstruksi 13,00 % p.a  
2. Modal Kerja Perdagangan ( Sistem Angguran ) 13,00 % p.a  
3 Modal Kerja Perdagangan (Revolving/RC) 13,00 % p.a  
      Selengkapnya ...
Home
 
Email Forum Diskusi Kontak Buku Tamu
  SBDK Detail Birate: 6.50% [21-07-16] Kurs: USD-13,442 SGD-9,503 JPY-11,708 GBP-16,345 EUR-14,268 AUD-10,175 SAR-3,585 [15-03-2017] Detail . . .




Ini yang Bikin Rupiah Sulit Perkasa Seperti Dolar AS
Senin, 26 Januari 2015
Sumber : http://bisnis.liputan6.com

Untitled Document

Liputan6.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI) membeberkan akar permasalahan yang mengakibatkan nilai rukar rupiah terdepresiasi terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Tak heran bila Bank Sentral memperkirakan asumsi kurs rupiah pada rentang Rp 12.200-Rp 12.800 per dolar AS di tahun ini.

Gubernur BI, Agus DW Martowardojo menyebut, persoalan pertama, Indonesia membukukan defisit neraca transaksi berjalan (current account deficit/CAD) pada 2013 sebesar US$ 29 miliar dan susut menjadi US$ 25 miliar pada 2014. Rapor merah defisit juga ada di neraca perdagangan Indonesia.

"Semua negara ASEAN surplus, kecuali Indonesia defisit. Kondisi ini nggak memungkinkan nilai tukar rupiah jadi lebih kuat, apalagi ekonomi Tiongkok melemah sehingga memicu penurunan harga komoditas dan bikin rupiah tertekan," jelas dia di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (22/1/2015) malam.

Dari catatan Agus, kurs rupiah terdepresiasi terhadap dolar AS sebesar 1,7 persen di 2014. Masih jauh lebih rendah dibanding pelemahan nilai tukar mata uang dolar Singapura 4 persen, Malaysia 6 persen.

Problem kedua, sebut dia, karena pengaruh utang luar negeri (ULN) swasta yang lebih tinggi dibanding ULN pemerintah tanpa lindung nilai (hedging). ULN swasta mencapai US$ 161 miliar dan ULN pemerintah US$ 133 miliar.

"Risikonya nilai tukar rupiah menjadi likuiditas over leverage kalau terjadi perubahan," ujarnya.

Permasalahan ketiga kedalaman pasar keuangan di Indonesia masih sangat dangkal sehingga apabila ada lonjakan permintaan dolar AS, terjadi guncangan karena suplai kurang memadai.

Selain itu Undang-undang (UU) lalu lintas devisa di Indonesia diberikan kebebasan. Tidak seperti di Thailand dan Singapura di mana devisa hasil ekspor ditahan beberapa bulan atau ditukar ke mata uang mereka.

Di samping itu, BI sambung Agus, pemerintah akan menjaga inflasi di bawah 4 plus minus 1 persen melalui reformasi struktural mengingat problem mendasar kurs rupiah terkait pula dengan subsidi bahan bakar minyak (BBM).

"Selama 20 tahun terakhir, isu kita cuma subsidi BBM dan listrik, pembangunan infrastruktur, perizinan termasuk anti korupsi. Reformasi struktural kita mencabut subsidi Premium dan subsidi tetap Solar sehingga ini dihormati dunia. Tinggal apa benar penghematan ini bisa dialihkan ke sektor produktif," cetus dia.

Sementara persoalan kelima, kata dia, datang dari normalisasi kebijakan moneter di AS sehingga berpeluang memacu penguatan dolar AS.

"Kita harus perbaiki CAD, karena agak sulit menjaga kurs rupiah di level stabil kalau masihseperti ini," ucap Agus. (Fik/Ndw)

 
 
 
Copyright © Bank Papua 2010  
   
Jl. Ahmad Yani no. 5-7 Jayapura - Papua - Indonesia  
Kode pos : 99111