Nominal (Rp.) Rate (%)  
Simpeda < 100.000,- 0 % p.a  
(Bunga Harian ) > 100.000 - 100 Jt 1.00 % Selengkapnya ...
Simanja < 100.000,- 0 % p.a  
(Bunga Terendah) > 100.000 - 100 Jt 1.50 %  
  Nominal (Rp.) Jenis Giro (%)  
Giro Pemda < 100 Juta 0 %  
  > 100 Juta - 1 Milyar 0.75 % Selengkapnya ...
Giro Umum < 50 Juta 0 %  
  > 50 Juta - 500 Juta 0.50 % Selengkapnya ...
         
  Rate
  1 Bln 3 Bln 6 Bln 12 Bln 24 Bln
1 Juta - 100 Juta 5,00% 5,25% 5,75% 6,00% 6,25%
> 100 - 250 Juta 5,05% 5,30% 5,80% 6,05% 6,30%
> 250 - 500 Juta 5,10% 5,35% 5,85% 6,10% 6,35%
> 500 - 1 Milyar 5,15% 5,40% 5,90% 6,15% 6,40%
> 1 Milyar 5,25% 5,50% 6,00% 6,25% 6,50%
No. Jenis Kredit Suku Bunga  
1 Modal Kerja konstruksi 13,00 % p.a  
2. Modal Kerja Perdagangan ( Sistem Angguran ) 13,00 % p.a  
3 Modal Kerja Perdagangan (Revolving/RC) 13,00 % p.a  
      Selengkapnya ...
Home
 
Email Forum Diskusi Kontak Buku Tamu
  SBDK Detail Birate: 6.50% [21-07-16] Kurs: USD-13,442 SGD-9,503 JPY-11,708 GBP-16,345 EUR-14,268 AUD-10,175 SAR-3,585 [15-03-2017] Detail . . .




Asalkan BI Rate Diturunkan, Pertumbuhan Ekonomi Dapat Melesat Tinggi
Kamis, 12 Februari 2015
Sumber : http://www.neraca.co.id

Untitled Document

Asalkan BI Rate Diturunkan,

PERTUMBUHAN EKONOMI DAPAT MELESAT TINGGI

Jakarta - Pertumbuhan ekonomi yang diharapkan Presiden Joko Widodo mencapai 7% pada tahun ini dinilai bukanlah omong kosong, asalkan untuk mewujudkannya harus ada prasyarat yaitu menurunkan suku bunga BI Rate dalam waktu dekat ini. Namun apabila BI Rate tetap bertengger tinggi seperti sekarang (7,75%), maka target pertumbuhan tersebut sulit menjadi kenyataan.

NERACA

Bahkan Kepala Bappenas/Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Andrinof Chaniago menegaskan, jika Bank Indonesia (BI) mau menurunkan suku bunga acuannya, pertumbuhan ekonomi 2015 bisa melesat. Dia berharap suku bunga BI turun sebab indeks harga konsumen yang dicatat BPS pada Januari 2015  mengalami deflasi. "Konsumsi bisa lebih tinggi atau tetap. Harapannya tinggi. Kalau inflasi makin turun, Bank Indonesia kan bisa nurunin suku bunga, sehingga daya beli masyarakat meningkat," ujarnya di Jakarta, pekan lalu.

Tidak hanya itu. Guru besar ekonomi Universitas Brawijaya Prof Dr Ahmad Erani Yustika mengatakan untuk memacu pertumbuhan ekonomi, sebaiknya Bank Indonesia segera menurunkan suku bunga acuannya. Karena suku bunga BI Rate seharusnya diturunkan di saat inflasi rendah.

"Kebijakan Bank Indonesia untuk mempertahankan BI Rate yang tinggi di saat laju inflasi cenderung melemah, merupakan keputusan yang kurang bijak," ujarnya saat dihubungi Neraca, Rabu (11/2).

Menurut Erani, pada Januari 2015 terjadi inflasi negatif atau deflasi terkait penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) dan harga bahan makanan. Bila BI mempertahankan BI Rate pada tingkat tinggi saat kondisi potensi inflasi rendah, maka jika terjadi inflasi tinggi pada masa mendatang BI akan kehilangan ruang untuk menaikkan kembali BI Rate, karena sudah terlampau tinggi.

"Bila dipaksakan, maka bunga kredit akan semakin tinggi. Tingkat inflasi yang tinggi tahun 2014 lalu sesungguhnya disebabkan oleh dorongan faktor biaya karena kenaikan harga BBM subsidi," katanya.

Dalam kondisi tersebut, menurut Erani, pemerintah semestinya melakukan kebijakan "supply side" (sisi pasokan) untuk mendorong suplai barang yang terdapat di pasar. "Bukan malah melalui kebijakan moneter BI dengan menaikkan BI Rate. Ini akan mengorbankan pertumbuhan ekonomi," katanya.

Pemerintah dalam APBNP 2015 menyusun anggaran dengan asumsi laju pertumbuhan ekonomi 5,7% dan angka itu dianggap para pelaku bisnis sebagai target pemerintah. Mereka akan menggunakan angka itu sebagai acuan dalam menyusun bujet dan rencana bisnis perusahaan. Karena itu, upaya mendongkrak laju pertumbuhan ekonomi mesti menjadi komitmen semua pihak, termasuk BI. Meski independen, bank sentral perlu berkoordinasi lebih baik dengan pemerintah untuk membantu mendorong laju pertumbuhan ekonomi.

Jika semua pihak memberikan kontribusi riil, menurut dia, laju pertumbuhan ekonomi tahun ini bisa menembus 6% dan tahun 2016-2019 ekonomi Indonesia akan melaju di atas 7 %. Namun, bila tidak ada langkah perbaikan berarti, pertumbuhan ekonomi tahun ini hanya sekitar 5,3 % sampai 5,5 %, sedikit lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Laju pertumbuhan sebesar ini kurang menarik bagi para pemodal. Bila pemodal tidak yakin akan peningkatan pertumbuhan ekonomi, yang bakal terjadi justru aliran modal keluar yang kelak memukul nilai tukar rupiah terlalu tinggi

Ekonom Universitas Atma Jaya A. Prasetyantoko mengatakan, posisi BI Rate yang berada di level 7,75% dianggap sudah terlalu tinggi. Oleh karenanya, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, seharusnya BI tidak menaikkan suku bunga acuannya, bahkan apabila kondisi ekonomi membaik, bisa menurunkan BI Rate-nya sehingga memicu suku bunga rendah yang diharapkan mampu mengerek konsumsi rumah tangga. Berkaca pada tahun lalu, dimana sepanjang tahun 2014 kontribusi konsumsi rumah tangga menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi.

"Pada 2015 pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,8%. Sementara itu, BI memprediksi pertumbuhan ekonomi berada pada kisaran 5,4%-5,8% dan mengarahkan perbankan agar kreditnya tumbuh 15%-17% sejalan dengan dana pihak ketiga (DPK) yang diperkirakan tumbuh 14%-16% pada tahun ini," kata dia.

Dia pun menuturkan jika bank sentral akan mempertahankan ekonomi ketat tentu kontradiktif dengan rencana Jokowi menggeber perekonomian agar tumbuh hingga 7%. Apalagi, selain dana pemerintah, pertumbuhan ekonomi ditopang kredit bank. Dengan bunga acuan tinggi, bunga kredit dipastikan akan ikut melesat.

"Kondisi ini akan membuat ekspansi perusahaan terhambat. Daya beli konsumen ikut lesu darah. Jika ini terjadi, keinginan mendongkrak pertumbuhan lebih tinggi jelas akan terhambat," imbuh ujar Prasetyantoko.

Pengamat ekonomi Aviliani mengatakan, pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan oleh pemerintah akan sulit dicapai jika masalah di dalam negeri tidak dicari jalan keluarnya. Salah satu masalahnya, adalah suku bunga BI Rate yang terlalu tinggi.

Menurut dia, jika The Fed menaikkan suku bunga pada April 2015, seharusnya Bank Indonesia bisa menurunkan BI Rate lebih cepat. Sebab setelah The Fed menaikkan suku bunga, perekonomian dunia akan lebih stabil. The Fed diperkirakan tidak akan menaikkan secara signifikan, sekitar 25-50 basis poin.

Aviliani mengatakan selama ini BI mempertahankan suku bunga dengan maksud agar tidak banyak dana investor yang lari keluar Indonesia sehingga membuat rupiah akan semakin melemah. Karena itu, dia mengusulkan pemerintah untuk membeli lagi obligasi-obligasi, kemudian pemerintah melakukan pinjaman jangka panjang misalnya tiga tahun.

Pengamat ekonomi UI Telisa Aulia Falianty menuturkan saat ini momen yang tepat bagi BI untuk dapat menurunkan suku bunga acuannya, mengingat pada Januari kemarin deflasi, dan di saat menurunnya harga minyak dunia. "Sekarang momen yang tepat agar BI bisa menurunkan BI Rate," katanya.

Karena, menurut dia, di saat pemerintah ingin melaju kencang menuju pertumbuhan ekonomi yang tinggi, tentu perlu dukungan dari BI juga untuk dapat menurunkan suku bunga acuan agar sektor riil dan perbankan bisa berjalan. Apalagi sekarang menjelang Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada akhir tahun ini, semua sektor harus bisa bersaing secara kompetitif. Oleh karenanya tentu perlu juga dukungan dari BI. "Kita ingin semua sektor kompetitif tapi jika terpencara akan suku bunga yang tinggi akan sulit berjalan. Untuk itu perlu juga dukungan dari BI agar bisa menurunkan BI Rate saat ini," ujarnya.

Meskipun wacana akan adanya kenaikan The Fed, pada tahun ini memang menjadi salah satu peringatan terhadap BI. Tapi jika BI terus menahan BI Rate, dan ketika The Fed menaikan suku bunga maka pasti BI reaktif menaikan kembali BI Rate. "Di level 7,75% saja sudah tinggi, jika nanti The Fed menaikan suku bunga dan di ikuti oleh BI Rate bisa sangat tinggi sekali. Saat ini BI Rate dapat diturunkan minimal 25 bps atau kalau bisa 50 bps, meski pun nanti bisa dinaikkan kembali," ujarnya. iwan/agus/bari/mohar

 
 
 
Copyright © Bank Papua 2010  
   
Jl. Ahmad Yani no. 5-7 Jayapura - Papua - Indonesia  
Kode pos : 99111