Nominal (Rp.) Rate (%)  
Simpeda < 100.000,- 0 % p.a  
(Bunga Harian ) > 100.000 - 100 Jt 1.00 % Selengkapnya ...
Simanja < 100.000,- 0 % p.a  
(Bunga Terendah) > 100.000 - 100 Jt 1.50 %  
  Nominal (Rp.) Jenis Giro (%)  
Giro Pemda < 100 Juta 0 %  
  > 100 Juta - 1 Milyar 0.75 % Selengkapnya ...
Giro Umum < 50 Juta 0 %  
  > 50 Juta - 500 Juta 0.50 % Selengkapnya ...
         
  Rate
  1 Bln 3 Bln 6 Bln 12 Bln 24 Bln
1 Juta - 100 Juta 5,00% 5,25% 5,75% 6,00% 6,25%
> 100 - 250 Juta 5,05% 5,30% 5,80% 6,05% 6,30%
> 250 - 500 Juta 5,10% 5,35% 5,85% 6,10% 6,35%
> 500 - 1 Milyar 5,15% 5,40% 5,90% 6,15% 6,40%
> 1 Milyar 5,25% 5,50% 6,00% 6,25% 6,50%
No. Jenis Kredit Suku Bunga  
1 Modal Kerja konstruksi 13,00 % p.a  
2. Modal Kerja Perdagangan ( Sistem Angguran ) 13,00 % p.a  
3 Modal Kerja Perdagangan (Revolving/RC) 13,00 % p.a  
      Selengkapnya ...
Home
 
Email Forum Diskusi Kontak Buku Tamu
  SBDK Detail Birate: 6.50% [21-07-16] Kurs: USD-13,391 SGD-9,595 JPY-12,029 GBP-16,786 EUR-14,301 AUD-10,198 SAR-3,570 [03-04-2017] Detail . . .




BI Diprediksi Tahan Suku Bunga Acuan 7,5%
Senin, 16 Maret 2015
Sumber : http://www.infobanknews.com

Untitled Document

Jakarta–Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan mempertahankan posisi suku bunga acuan (BI Rate di level 7,5%) meskipun kondisi pergerakan Rupiah mengalami tekanan terhadap Dolar AS.

“Terus terang saja, pasar sangat terkejut saat bulan lalu BI menurunkan BI Rate dari 7,75% ke 7,5%, karena status suatu negara yang memiiki defisit neraca transaksi berjalan seharusnya tidak menurunkan suku bunga acuan. Tetapi, tidak mungkin BI akan kembali menaikkannya lagi di bulan ini,” kata ekonom, Fauzi Ichsan dalam diskusi edukasi “Monex Innovative Trading Lifestyle” di Jakarta, kemarin.

Menurut Fauzi, dalam upaya menjaga dan meningkatkan volume capital inflow, maka sebuah negara harus memiliki fundamental ekonomi yang kuat. Sehingga, lanjut dia, neraca transaksi berjalan harus memiliki defisit yang rendah atau bahkan surplus.

Dia mengatakan, setiap negara yang memiliki defisit transaksi berjalan cukup besar, tentunya tidak bisa mendesain suku bunga ke tingkat yang lebih rendah.

“BI Rate yang tinggi diharapkan bisa memicu terciptanya capital inflow,” imbuhnya.

Fauzi mengungkapkan, tidak bisa dimungkiri bahwa upaya untuk menekan current acount deficit harus dibiayai oleh aliran modal asing. Jika BI Rate terlalu rendah, ujar Fauzi, maka minat asing untuk masuk ke pasar Indonesia akan menyurut, sehingga Rupiah pun menjadi terdepresiasi.

“Hal-hal ini yang menjadi alasan dalam kebijakan moneter BI,” ucap Fauzi.

Dengan demikian, menurut Fauzi, sepanjang tahun ini BI akan mempertahankan BI Rate pada posisi 7,5% dan akan lebih rendah menjadi 7,25% pada Kuartal I 2016. Selanjutnya, BI Rate akan kembali merendah menjadi 7% di kuartal kedua. (*)

 
 
 
Copyright © Bank Papua 2010  
   
Jl. Ahmad Yani no. 5-7 Jayapura - Papua - Indonesia  
Kode pos : 99111