Nominal (Rp.) Rate (%)  
Simpeda < 100.000,- 0 % p.a  
(Bunga Harian ) > 100.000 - 100 Jt 1.00 % Selengkapnya ...
Simanja < 100.000,- 0 % p.a  
(Bunga Terendah) > 100.000 - 100 Jt 1.50 %  
  Nominal (Rp.) Jenis Giro (%)  
Giro Pemda < 100 Juta 0 %  
  > 100 Juta - 1 Milyar 0.75 % Selengkapnya ...
Giro Umum < 50 Juta 0 %  
  > 50 Juta - 500 Juta 0.50 % Selengkapnya ...
         
  Rate
  1 Bln 3 Bln 6 Bln 12 Bln 24 Bln
1 Juta - 100 Juta 5,00% 5,25% 5,75% 6,00% 6,25%
> 100 - 250 Juta 5,05% 5,30% 5,80% 6,05% 6,30%
> 250 - 500 Juta 5,10% 5,35% 5,85% 6,10% 6,35%
> 500 - 1 Milyar 5,15% 5,40% 5,90% 6,15% 6,40%
> 1 Milyar 5,25% 5,50% 6,00% 6,25% 6,50%
No. Jenis Kredit Suku Bunga  
1 Modal Kerja konstruksi 13,00 % p.a  
2. Modal Kerja Perdagangan ( Sistem Angguran ) 13,00 % p.a  
3 Modal Kerja Perdagangan (Revolving/RC) 13,00 % p.a  
      Selengkapnya ...
Home
 
Email Forum Diskusi Kontak Buku Tamu
  SBDK Detail Birate: 6.50% [21-07-16] Kurs: USD-13,442 SGD-9,503 JPY-11,708 GBP-16,345 EUR-14,268 AUD-10,175 SAR-3,585 [15-03-2017] Detail . . .




Perbankan Kurang Ekspansif Dorong Pertumbuhan
Kamis, 28 Mei 2015
Sumber : http://www.medanbisnisdaily.com

Untitled Document

MedanBisnis - Jakarta. Pakar ekonomi Anggito Abimanyu menyebutkan industri perbankan kurang ekspansif menyalurkan kredit untuk menstimulus perekonomian, terlihat dari penyaluran kredit yang baru tumbuh sekitar 11,3% (year on year) hingga Maret 2015.

"Kredit perbankan sebenarnya kontribusinya sama dengan pembiayaan pemerintah (APBN). 'Please do lend'. Per Mei mungkin pertumbuhan kreditnya malah 10 persen," kata Anggito dalam Kongres Asosiasi Bankir untuk Pengelola Risiko (BARA) di Jakarta, Rabu (27/5).

Anggito menilai industri perbankan masih memperketat penyaluran kredit untuk beberapa sektor usaha. Menurut dia, perbankan seharusnya mampu melihat potensi besar di sektor perikanan, pertanian dan sektor infrastruktur, tanpa mengabaikan manajemen mitigasi risiko.

Apalagi, sektor-sektor tersebut juga sejalan dengan prioritas pembangunan pemerintah. "Perbankan, jangan semua sektor dikasih lampu merah," kata Anggito yang juga Mantan Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan.

Menurut Anggito, fungsi intermediasi perbankan juga belum optimal, terlihat dari rasio pinjaman terhadap simpanan (loan to deposit ratio/LDR) yang sebesar 88,3% per Maret 2015. Adapun, rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) sebenarnya masih terkendali di 2,4%, meskipun NPL untuk pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) tercatat di 4,14%.

Lebih lanjut Anggito menekankan kalangan perbankan juga harus memahami bahwa kondisi perekonomian selama triwulan I sangat tertekan, terlihat dari pertumbuhan ekonomi yang hanya 4,71% dan realisasi defisit fiskal yang meleset dari target.

Oleh karena itu, ujar dia perbankan harus menjadi motor untuk memulihkan pertumbuhan ekonomi yang melambat. "Swasta memiliki kemampuan seperti dengan kemampuan analisis dan kreativitas yang tinggi. Hal tersebut sulit terlihat dari pemerintah," kata ekonom yang juga Kepala Ekonom PT Bank Rakyat Indonesia (Tbk).

Anggito mengatakan kredit perbankan pada 2015 seharusnya tumbuh 13%-15% untuk menopang pertumbuhan ekonomi di atas 5%. Menurut Anggito, target pertumbuhan ekonomi di APBN-Perubahan 2015 sebesar 5,7% sulit tercapai. Dia menyebutkan konsensus para kepala ekonom bank-bank di Indonesia memperkitakan pertumbuhan ekonomi hanya tumbuh 5%-5,2%. (dtf)

 
 
 
Copyright © Bank Papua 2010  
   
Jl. Ahmad Yani no. 5-7 Jayapura - Papua - Indonesia  
Kode pos : 99111