Nominal (Rp.) Rate (%)  
Simpeda < 100.000,- 0 % p.a  
(Bunga Harian ) > 100.000 - 100 Jt 1.00 % Selengkapnya ...
Simanja < 100.000,- 0 % p.a  
(Bunga Terendah) > 100.000 - 100 Jt 1.50 %  
  Nominal (Rp.) Jenis Giro (%)  
Giro Pemda < 100 Juta 0 %  
  > 100 Juta - 1 Milyar 0.75 % Selengkapnya ...
Giro Umum < 50 Juta 0 %  
  > 50 Juta - 500 Juta 0.50 % Selengkapnya ...
         
  Rate
  1 Bln 3 Bln 6 Bln 12 Bln 24 Bln
1 Juta - 100 Juta 5,00% 5,25% 5,75% 6,00% 6,25%
> 100 - 250 Juta 5,05% 5,30% 5,80% 6,05% 6,30%
> 250 - 500 Juta 5,10% 5,35% 5,85% 6,10% 6,35%
> 500 - 1 Milyar 5,15% 5,40% 5,90% 6,15% 6,40%
> 1 Milyar 5,25% 5,50% 6,00% 6,25% 6,50%
No. Jenis Kredit Suku Bunga  
1 Modal Kerja konstruksi 13,00 % p.a  
2. Modal Kerja Perdagangan ( Sistem Angguran ) 13,00 % p.a  
3 Modal Kerja Perdagangan (Revolving/RC) 13,00 % p.a  
      Selengkapnya ...
Home
 
Email Forum Diskusi Kontak Buku Tamu
  SBDK Detail Birate: 6.50% [21-07-16] Kurs: USD-13,442 SGD-9,503 JPY-11,708 GBP-16,345 EUR-14,268 AUD-10,175 SAR-3,585 [15-03-2017] Detail . . .




Depresiasi Rupiah Bikin BI Rate Tinggi
Senin, 22 Juni 2015
Sumber : http://www.infobanknews.com

Untitled Document

Jakarta–Bank Indonesia (BI) menilai, pelemahan Rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat (AS) menjadi faktor utama yang mendorong tingkat suku bunga acuan berada di level 7,5%, padahal ekonomi nasional saat ini membutuhkan BI Rate yang lebih rendah.

“Memang kami perlu untuk menurunkan suku bunga, tetapi kami masih menunggu keseimbangan antara global dan Rupiah,” ujar Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Dody Zulverdi di Jakarta, Senin, 22 Juni 2015.

Dia mengungkapkan, masih tingginya level BI Rate di angka 7,5% tersebut, bukan hanya semata-mata untuk menjaga laju inflasi menuju sasaran di level 4% plus minus 1% pada 2015 dan 2016. “Tetapi, ini terutama pada pelemahan nilai tukar Rupiah kita yang terjadi,” tukasnya.

Adanya kondisi tersebut, lanjut Dody, depresiasi Rupiah terhadap Dollar AS telah memaksa bank sentral untuk kembali mempertahan BI Rate di level 7,5%. “Situasi ekonomi global, terutama pasar keuangan dunia masih belum memiliki ketidakpastian,” ucapnya.

Menurut dia, sentimen negatif dari global itu terutama terkait ketidakpawstian penyelesaian masalah utang Yunani dan rencana Federal Reserve AS yang akan menaikkan Fed Fund Rate. “Ini yang memicu ketidakpastian di dalam negeri, sehingga memicu pelemahan Rupiah,” tuturnya.

Dia menilai, perlambatan ekonomi nasional perlu mendapatkan dukungan dari kebijakan moneter dalam bentuk BI Rate yang lebih rendah. “Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, suku bunga harus diturunkan. Tapi, kami menunggu kepastian global, kami tahan dahulu untuk menurunkan suku bunga,” tutupnya.

 
 
 
Copyright © Bank Papua 2010  
   
Jl. Ahmad Yani no. 5-7 Jayapura - Papua - Indonesia  
Kode pos : 99111