Nominal (Rp.) Rate (%)  
Simpeda < 100.000,- 0 % p.a  
(Bunga Harian ) > 100.000 - 100 Jt 1.00 % Selengkapnya ...
Simanja < 100.000,- 0 % p.a  
(Bunga Terendah) > 100.000 - 100 Jt 1.50 %  
  Nominal (Rp.) Jenis Giro (%)  
Giro Pemda < 100 Juta 0 %  
  > 100 Juta - 1 Milyar 0.75 % Selengkapnya ...
Giro Umum < 50 Juta 0 %  
  > 50 Juta - 500 Juta 0.50 % Selengkapnya ...
         
  Rate
  1 Bln 3 Bln 6 Bln 12 Bln 24 Bln
1 Juta - 100 Juta 5,00% 5,25% 5,75% 6,00% 6,25%
> 100 - 250 Juta 5,05% 5,30% 5,80% 6,05% 6,30%
> 250 - 500 Juta 5,10% 5,35% 5,85% 6,10% 6,35%
> 500 - 1 Milyar 5,15% 5,40% 5,90% 6,15% 6,40%
> 1 Milyar 5,25% 5,50% 6,00% 6,25% 6,50%
No. Jenis Kredit Suku Bunga  
1 Modal Kerja konstruksi 13,00 % p.a  
2. Modal Kerja Perdagangan ( Sistem Angguran ) 13,00 % p.a  
3 Modal Kerja Perdagangan (Revolving/RC) 13,00 % p.a  
      Selengkapnya ...
Home
 
Email Forum Diskusi Kontak Buku Tamu
  SBDK Detail Birate: 6.50% [21-07-16] Kurs: USD-13,391 SGD-9,595 JPY-12,029 GBP-16,786 EUR-14,301 AUD-10,198 SAR-3,570 [03-04-2017] Detail . . .




Dolar Rp 14 Ribu, BI Jaga Stabilitas Rupiah
Senin, 24 Agustus 2015
Sumber : http://www.republika.co.id

Untitled Document

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Indonesia (BI) memastikan, akan terus berada di pasar untuk menjaga stabilitas rupiah. Kondisi perekonomian saat ini masih lebih baik dibandingkan krisis moneter 1998 dan 2008.

Gubernur BI Agus Martowardoyo mengatakan, pelemahan rupiah dipengaruhi oleh kondisi eksternal. Salah satu pengaruh eksternal, perbaikan ekonomi di AS. Selain itu, juga dipengaruhi rencana Bank Sentral AS, The Fed berencana menaikkan suku bunga.

Menurut Agus, menghadapi masalah tersebut harus direspons dengan koordinasi yang baik antara otoritas moneter dan pemerintah. Pihak-pihak tersebut harus menyakinkan investor bahwa kebijakan yang dikeluarkan konsisten dan terpercaya. 

Dia menuturkan, BI akan selalu berada di pasar menjaga stabilitas rupiah. Tujuannya, agar tidak terjadi volatilitas yang tinggi. Di samping itu, pihaknya juga menjaga cadangan devisa agar selalu memadai.

Agus menilai, kondisi saat ini jauh lebih baik dibandingkan dengan krisis moneter 1998 dan 2008. Hal itu bisa dilihat dari volatilitas nilai tukar yang lebih terkendali dan tingkat inflasi.

Dia menerangkan, pada krisis moneter 1997-1998 inflasi mencapai 60 persen. Pada 2008-2009 tingkat inflasi juga tinggi.

Agus melanjutkan, tingkat inflasi Indonesia mengarah ke level empat persen. Dengan bergerak di bawah 4,5 persen artinya, kondisi fundamental Indonesia lebih baik. Dia mengingatkan, situasi dan kondisi perekonomian harus dijaga agar pesimisme dan sentimen negatif tidak berkelanjutan.

Agus menuturkan, pertemuan seperti ini mengundang dunia usaha bertemu dengan presiden dan wakil presiden, menteri, OJK, dan BI merupakan koordinasi yang baik. Dia menilai, pertemuan tersebut digelar bukan karena pemerintah panik. Sebaliknya, apabila pertemuan seperti ini tidak dilakukan berarti pemerintah tidak mengatasi masalah dengan baik.

http://www.republika.co.id

 

 
 
 
Copyright © Bank Papua 2010  
   
Jl. Ahmad Yani no. 5-7 Jayapura - Papua - Indonesia  
Kode pos : 99111