Nominal (Rp.) Rate (%)  
Simpeda < 100.000,- 0 % p.a  
(Bunga Harian ) > 100.000 - 100 Jt 1.00 % Selengkapnya ...
Simanja < 100.000,- 0 % p.a  
(Bunga Terendah) > 100.000 - 100 Jt 1.50 %  
  Nominal (Rp.) Jenis Giro (%)  
Giro Pemda < 100 Juta 0 %  
  > 100 Juta - 1 Milyar 0.75 % Selengkapnya ...
Giro Umum < 50 Juta 0 %  
  > 50 Juta - 500 Juta 0.50 % Selengkapnya ...
         
  Rate
  1 Bln 3 Bln 6 Bln 12 Bln 24 Bln
1 Juta - 100 Juta 5,00% 5,25% 5,75% 6,00% 6,25%
> 100 - 250 Juta 5,05% 5,30% 5,80% 6,05% 6,30%
> 250 - 500 Juta 5,10% 5,35% 5,85% 6,10% 6,35%
> 500 - 1 Milyar 5,15% 5,40% 5,90% 6,15% 6,40%
> 1 Milyar 5,25% 5,50% 6,00% 6,25% 6,50%
No. Jenis Kredit Suku Bunga  
1 Modal Kerja konstruksi 13,00 % p.a  
2. Modal Kerja Perdagangan ( Sistem Angguran ) 13,00 % p.a  
3 Modal Kerja Perdagangan (Revolving/RC) 13,00 % p.a  
      Selengkapnya ...
Home
 
Email Forum Diskusi Kontak Buku Tamu
  SBDK Detail Birate: 6.50% [21-07-16] Kurs: USD-13,442 SGD-9,503 JPY-11,708 GBP-16,345 EUR-14,268 AUD-10,175 SAR-3,585 [15-03-2017] Detail . . .




Perbankan Harus Proaktif Beri Pendampingan Nasabah
Senin, 7 September 2015
Sumber : http://wartaekonomi.co.id

Untitled Document

WE Online, Jakarta - Kalangan perbankan harus proaktif memberi pendampingan kepada nasabah terutama bagi pelaku usaha mikro dan kecil di tengah meningkatnya risiko kredit, kata ekonom Dr. Nugroho SBM.

"Peningkatan risiko kredit (macet) terjadi bersamaan dengan melemahnya rupiah terhadap dolar AS dan pertumbuhan ekonomi yang tidak optimal," katanya di Semarang, Senin (7/9/2015).

Ia menyatakan bahwa selama ini usaha skala mikro dan kecil menjadi penopang penting perekonomian nasional. Karena prospektif, katanya menambahkan, banyak bank menyalurkan kredit ke segmen tersebut.

Staf pengajar Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro Semarang tersebut menyatakan perlakuan bank kepada pelaku usaha mikro dan kecil seharusnya berbeda karena akses mereka terbatas, baik modal, SDM, maupun teknologi.

Oleh karena itu, katanya, perbankan harus aktif memberi pendamping kepada nasabah usaha mikro dan kecil, agar kredit yang mereka salurkan tidak sampai macet akibat salah urus. Di kalangan pelaku usaha mikro sampai sekarang masih terdapat kebiasaan mencampur uang belanja atau konsumsi dengan uang hasil usaha.

Padahal, katanya, ketidakdisiplinan memisahkan uang belanja dengan uang usaha bisa meningkatkan risiko terjadinya kredit bermasalah. Oleh karena itu, Nugroho menyarankan perbankan lebih aktif memberi pendampingan kepada pelaku usaha mikro yang jadi debiturnya, agar risiko kredit macet bisa dieliminasi sekecil mungkin.

Corporate Communication Head Bank BTPN Eny Yuliati dalam kesempatan terpisah menyatakan pendampingan secara aktif kepada nasabah terbukti mampu menekan "non-performing loans" atau kredit bermasalah. Ia menjelaskan memberdayakan ekonomi rakyat merupakan panggilan BTPN yang melatarbelakangi lahirnya program Daya.

Melalui program Daya, kata Eny, Bank BTPN berkomitmen membangun kapasitas nasabah secara berkelanjutan serta memberi kesempatan tumbuh dan hidup lebih baik. Program Daya memiliki tiga pilar, yaitu Daya Sehat Sejahtera, Daya Tumbuh Usaha, serta Daya Tumbuh Komunitas. Daya Tumbuh Usaha merupakan program pelatihan pengembangan usaha dan modal bagi pelaku usaha mikro dan kecil.

Pendampingan intens kepada nasabah yang dilakukan oleh staf Daya Bank BTPN membuktikan mampu meningkatkan usaha nasabah sehingga bisa terhindar risiko kredit macet.

"NPL Bank BTPN sejauh ini rendah, sekitar 0,78 persen," kata Eny didampingi stafnya, Nurul Kolbi.

Batas maksimum NPL adalah 5 persen. Menurut laporan Otoritas Jasa Keuangan, per April 2015, NPL kotor (gross) perbankan mencapai 2,37 persen. (Ant)

 

 
 
 
Copyright © Bank Papua 2010  
   
Jl. Ahmad Yani no. 5-7 Jayapura - Papua - Indonesia  
Kode pos : 99111