Nominal (Rp.) Rate (%)  
Simpeda < 100.000,- 0 % p.a  
(Bunga Harian ) > 100.000 - 100 Jt 1.00 % Selengkapnya ...
Simanja < 100.000,- 0 % p.a  
(Bunga Terendah) > 100.000 - 100 Jt 1.50 %  
  Nominal (Rp.) Jenis Giro (%)  
Giro Pemda < 100 Juta 0 %  
  > 100 Juta - 1 Milyar 0.75 % Selengkapnya ...
Giro Umum < 50 Juta 0 %  
  > 50 Juta - 500 Juta 0.50 % Selengkapnya ...
         
  Rate
  1 Bln 3 Bln 6 Bln 12 Bln 24 Bln
1 Juta - 100 Juta 5,00% 5,25% 5,75% 6,00% 6,25%
> 100 - 250 Juta 5,05% 5,30% 5,80% 6,05% 6,30%
> 250 - 500 Juta 5,10% 5,35% 5,85% 6,10% 6,35%
> 500 - 1 Milyar 5,15% 5,40% 5,90% 6,15% 6,40%
> 1 Milyar 5,25% 5,50% 6,00% 6,25% 6,50%
No. Jenis Kredit Suku Bunga  
1 Modal Kerja konstruksi 13,00 % p.a  
2. Modal Kerja Perdagangan ( Sistem Angguran ) 13,00 % p.a  
3 Modal Kerja Perdagangan (Revolving/RC) 13,00 % p.a  
      Selengkapnya ...
Home
 
Email Forum Diskusi Kontak Buku Tamu
  SBDK Detail Birate: 6.50% [21-07-16] Kurs: USD-13,442 SGD-9,503 JPY-11,708 GBP-16,345 EUR-14,268 AUD-10,175 SAR-3,585 [15-03-2017] Detail . . .




BI berharap kepastian kenaikan suku bunga AS
Kamis, 17 September 2015
Sumber : http://www.antaranews.com

Untitled Document
Jakarta (ANTARA News) - Bank Indonesia berharap adanya kepastian terkait rencana kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral AS The Fed pada rapat Dewan Gubernur Bank Sentral AS (FOMC) pada 17 September mendatang.

"Ketidakpastian di dunia sudah cukup lama ya dan akan baik kalau seandainya pemegang kebijakan di FOMC itu bisa menaikkan jumlah (suku bunga) yang walau tidak besar tapi mulai dinaikkan di bulan September," kata Gubernur BI Agus Martowardojo usai rapat dengan Komisi XI DPR RI terkait pembahasan RAPBN 2016 di Jakarta, Selasa.

Agus menuturkan, para pejabat The Fed tentunya akan mempertimbangkan dengan matang terkait rencana kenaikan suku bunga tersebut beserta dampaknya ke depan serta posisi yang baik untuk AS khususnya dalam jangka panjang.

Menurut Agus, Indonesia sebagai salah satu negara berkembang yang rentan terhadap dinamika ekonomi global, harus mempersiapkan diri menghadapi berbagai kemungkinan yang bisa terjadi.

"Kita harus bisa baca perkembangan dari eksternal dan bagaimana tren domestik, kita antisipasi," ujar Agus.

Agus menegaskan, BI akan melakukan kebijakan moneter yang konsisten dan prudent untuk menjaga inflasi sesuai dengan target yang ditetapkan dan neraca transaksi berjalan menuju arah yang lebih sehat.

"September sampai Desember akan banyak perkembangan ekstrem yang bisa berdampak terhadap Indonesia. Kami akan lakukan manajemen likuiditas secara lebih efektif khususnya untuk rupiah, menjaga supply and demand dari valas, dan juga mengelola cadangan devisa dengan optimal," kata Agus.

Ketiga hal tersebut, lanjut Agus, merupakan bagian dari upaya bank sentral untuk mengantisipasi risiko global yang akan mempengaruhi perekonomian di dalam negeri.

"Stance (sikap) BI, kita lihat bahwa kondisi eksternal masih sangat tidak pasti. Ada 3 yang utama, pertama AS akan naikkan Fed Fund Rate, ekonomi dunia terkoreksi jadi lebih lemah dari yang kita prediksi, kemudian Tiongkok dan harga komoditi yang melemah," ujar Agus.

 

 

 

 
 
 
Copyright © Bank Papua 2010  
   
Jl. Ahmad Yani no. 5-7 Jayapura - Papua - Indonesia  
Kode pos : 99111