Nominal (Rp.) Rate (%)  
Simpeda < 100.000,- 0 % p.a  
(Bunga Harian ) > 100.000 - 100 Jt 1.00 % Selengkapnya ...
Simanja < 100.000,- 0 % p.a  
(Bunga Terendah) > 100.000 - 100 Jt 1.50 %  
  Nominal (Rp.) Jenis Giro (%)  
Giro Pemda < 100 Juta 0 %  
  > 100 Juta - 1 Milyar 0.75 % Selengkapnya ...
Giro Umum < 50 Juta 0 %  
  > 50 Juta - 500 Juta 0.50 % Selengkapnya ...
         
  Rate
  1 Bln 3 Bln 6 Bln 12 Bln 24 Bln
1 Juta - 100 Juta 5,00% 5,25% 5,75% 6,00% 6,25%
> 100 - 250 Juta 5,05% 5,30% 5,80% 6,05% 6,30%
> 250 - 500 Juta 5,10% 5,35% 5,85% 6,10% 6,35%
> 500 - 1 Milyar 5,15% 5,40% 5,90% 6,15% 6,40%
> 1 Milyar 5,25% 5,50% 6,00% 6,25% 6,50%
No. Jenis Kredit Suku Bunga  
1 Modal Kerja konstruksi 13,00 % p.a  
2. Modal Kerja Perdagangan ( Sistem Angguran ) 13,00 % p.a  
3 Modal Kerja Perdagangan (Revolving/RC) 13,00 % p.a  
      Selengkapnya ...
Home
 
Email Forum Diskusi Kontak Buku Tamu
  SBDK Detail Birate: 6.50% [21-07-16] Kurs: USD-13,391 SGD-9,595 JPY-12,029 GBP-16,786 EUR-14,301 AUD-10,198 SAR-3,570 [03-04-2017] Detail . . .




BI : Pertumbuhan Kredit Agustus Membaik
Senin, 21 September 2015
Sumber : http://www.neraca.co.id

Untitled Document

Jakarta – Ditengah kelesuan ekonomi, pertumbuhan kredit ikut terkena imbasnya. Pada Juli, pertumbuhan kredit berada dikisaran 9 persen. Kini Gubernur Bank Indonesia Agus Martawardojo mengatakan bahwa pertumbuhan kredit pada Agustus mencapai 10,9 persen. "Dalam pembahasan RDG kita melihat Juli pertumbuhan kredit itu ada di kisaran sembilan persen, sekarang ada di kisaran 10,9 persen. Jadi kalau misal pertumbuhan kredit di atas 10 persen Agustus itu menunjukan kondisi lebih baik," ujarnya, di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Selain itu, lanjut Agus, perbaikan ekonomi juga terlihat melalui surplus neraca perdagangan pada Agustus 2015. Hal ini didorong oleh peningkatan impor nonmigas yang meningkat, meskipun surplus lebih kecil dari bulan sebelumnya. "Neraca perdagangan itu kan memang ada surplus Agustus meskipun lebih kecil dari Juli, tapi kalau disimak itu karena neraca perdagangan yang mengecil surplusnya karena permintaan impor nonmigas yang cukup tinggi," terangnya.

Dirinya menambahkan, impor nonmigas yang cukup tinggi memang dipengaruhi oleh peningkatan impor barang modal, barang setengah jadi, dan keperluan untuk industri dalam negeri. "Itu tanda bahwa ekonomi bergerak dan akan ada dorongan untuk pertumbuhan ekonomi yang baik karena sudah dimulai dengan impor yang meningkat khususnya untuk barang modal dan barang setengah jadi," pungkas dia.

Pada Juli, BI melaporkan posisi kredit yang disalurkan perbankan pada Juli 2015 sebesar Rp3.859,6 triliun atau tumbuh 9,4% (yoy), melambat dibandingkan bulan sebelumnya (10,5%). Perlambatan kredit terjadi akibat pertumbuhan kredit modal kerja (KMK) dan kredit investasi (KI) melemah. Kredit Modal Kerja tercatat sebesar Rp1.826,4 triliun atau tumbuh 8,4% (yoy) lebih rendah dibanding pertumbuhan bulan sebelumnya (10,4%;yoy). Perlambatan pertumbuhan kredit modal kerja antara lain terjadi pada sektor industri pengolahan dan PHR (perdagangan, hotel, dan restoran) masing–masing tumbuh 14,0% (yoy) dan 6,8% (yoy), turun dibanding 16,0% (yoy) dan 8,6% (yoy) pada bulan sebelumnya.

Sebelumnya, Kepala Eksekutif Pengawasan Perbankan Otoritas Jasa Keuangan Nelson Tampubolon masih optimistis pertumbuhan kredit bisa menembus 13 persen pada akhir 2015. Target ini sejalan dengan Rencana Bisnis Bank (RBB), yaitu berada di angka 13-15 persen. “Ya saya rasa masih bisa pertumbuhannya di atas 13 persen,” katanya.

Menurut Nelson, meski perekonomian sempat melambat dalam beberapa waktu terakhir, pemerintah telah berupaya sebaik mungkin untuk kembali menggerakkan perekonomian nasional. “Di minggu-minggu terakhir ini mulai keliatan, kredit kita sudah mulai naik.”

Nelson menambahkan, pengeluaran pemerintah, baik untuk belanja modal ataupun belanja rutin, juga perlu ditingkatkan. Hal ini diperlukan untuk terus menjaga pertumbuhan kredit berada di angka positif. “Kalau pengeluaran bisa di-push dalam 3,5 bulan ke depan, saya rasa masih bisa tercapai 13-15 persen,” tuturnya.

Ihwal dana pihak ketiga di perbankan, Nelson berkata, jumlahnya memang tengah berlimpah. Tingkat loan to deposit ratio (LDR) juga masih aman di bawah batas atas, 92 persen. “Jadi bank-bank mungkin sekarang strateginya ada yang menurunkan suku bunga, jadi itu enggak masalah. Masih ada kelonggaran cukup banyak,” ujarnya.

 

 

 
 
 
Copyright © Bank Papua 2010  
   
Jl. Ahmad Yani no. 5-7 Jayapura - Papua - Indonesia  
Kode pos : 99111