Nominal (Rp.) Rate (%)  
Simpeda < 100.000,- 0 % p.a  
(Bunga Harian ) > 100.000 - 100 Jt 1.00 % Selengkapnya ...
Simanja < 100.000,- 0 % p.a  
(Bunga Terendah) > 100.000 - 100 Jt 1.50 %  
  Nominal (Rp.) Jenis Giro (%)  
Giro Pemda < 100 Juta 0 %  
  > 100 Juta - 1 Milyar 0.75 % Selengkapnya ...
Giro Umum < 50 Juta 0 %  
  > 50 Juta - 500 Juta 0.50 % Selengkapnya ...
         
  Rate
  1 Bln 3 Bln 6 Bln 12 Bln 24 Bln
1 Juta - 100 Juta 5,00% 5,25% 5,75% 6,00% 6,25%
> 100 - 250 Juta 5,05% 5,30% 5,80% 6,05% 6,30%
> 250 - 500 Juta 5,10% 5,35% 5,85% 6,10% 6,35%
> 500 - 1 Milyar 5,15% 5,40% 5,90% 6,15% 6,40%
> 1 Milyar 5,25% 5,50% 6,00% 6,25% 6,50%
No. Jenis Kredit Suku Bunga  
1 Modal Kerja konstruksi 13,00 % p.a  
2. Modal Kerja Perdagangan ( Sistem Angguran ) 13,00 % p.a  
3 Modal Kerja Perdagangan (Revolving/RC) 13,00 % p.a  
      Selengkapnya ...
Home
 
Email Forum Diskusi Kontak Buku Tamu
  SBDK Detail Birate: 6.50% [21-07-16] Kurs: USD-13,442 SGD-9,503 JPY-11,708 GBP-16,345 EUR-14,268 AUD-10,175 SAR-3,585 [15-03-2017] Detail . . .




Pemerintah Diminta Waspadai Pengangguran Bertambah Akibat MEA
Jum'at, 27 Nopember 2015
Sumber : http://www.cnnindonesia.com

Untitled Document
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah diminta mewaspadai risiko bertambahnya jumlah pengangguran akibat diberlakukannya kesepakatan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) mulai penghujung tahun ini. Rendahnya daya saing pekerja Indonesia, dinilai akan membuat lapangan kerja yang tersedia dipenuhi oleh para pekerja dari negara lain karena kesepakatan MEA memberi kebebasan lalu-lintas pekerja.

Executive Director & CEO IPMI International Business School Jimmy M Rifai Gani mencatat saat ini Indonesia merupakan negara dengan tingkat pengangguran tertinggi kedua setelah Filipina diantara negara-negara anggota Asean lainnya.

Sementara daya saing Indonesia berdasarkan World Competitiveness Ranking 2015 juga relatif rendah. Posisi Indonesia merosot 5 tingkat dari sebelumnya peringkat ke 37 pada 2014 menjadi peringkat ke 42 dari 61 negara yang di survei.

Posisi tersebut lebih rendah dibandingkan negara-negara yang justru menjadi pesaing utama Indonesia dalam MEA yaitu Singapura nomor 3, Malaysia (14), Thailand (29), dan Filipina (41).

“Ada beberapa faktor yang menyebabkan peringkat Indonesia turun. Investasi untuk pendidikan sumber daya manusia yang rendah, cara menarik ekspatriat untuk masuk, dan faktor aset menjadi penyebabnya,” kata Jimmy.

Sementara Institute for Development of Economics and Finance (Indef) meminta pemerintah untuk serius membendung serbuan tenaga kerja dari negara-negara tetangga yang ingin masuk ke Indonesia.

Indef mengungkapkan, eberapa faktor yang mempengaruhi tingginya tingkat pengangguran di Indonesia ialah jumlah penduduk Indonesia, memburuknya kualitas ekonomi, kualitas tenaga kerja Indonesia yang masih di bawah negara-negara anggota ASEAN lainnya, dan rendahnya produktivitas tenaga kerja Indonesia.

Direktur Eksekutif Indef Enny Sri Hartati mengatakan berdasarkan data produktivitas antar negara di ASEAN, tingkat produktivitas tenaga kerja Indonesia (3,75 persen) masih tertinggal jauh dari Thailand (5,63 persen) dan Filipina (5,43 persen).

Sementara dari sisi investasi, Indonesia dinilainya belum siap untuk menarik modal bebas dari negara-negara ASEAN.

“Pemerintah harus banyak berbenah untuk menyerap investasi asing ini. Hal yang perlu dibenahi adalah reformasi birokrasi, adanya kepastian dari sisi pengupahan sehingga tidak menimbulkan konflik hubungan industrial yang berkelanjutan,” kata Enny. (gen)

 

 

 
 
 
Copyright © Bank Papua 2010  
   
Jl. Ahmad Yani no. 5-7 Jayapura - Papua - Indonesia  
Kode pos : 99111