Nominal (Rp.) Rate (%)  
Simpeda < 100.000,- 0 % p.a  
(Bunga Harian ) > 100.000 - 100 Jt 1.00 % Selengkapnya ...
Simanja < 100.000,- 0 % p.a  
(Bunga Terendah) > 100.000 - 100 Jt 1.50 %  
  Nominal (Rp.) Jenis Giro (%)  
Giro Pemda < 100 Juta 0 %  
  > 100 Juta - 1 Milyar 0.75 % Selengkapnya ...
Giro Umum < 50 Juta 0 %  
  > 50 Juta - 500 Juta 0.50 % Selengkapnya ...
         
  Rate
  1 Bln 3 Bln 6 Bln 12 Bln 24 Bln
1 Juta - 100 Juta 5,00% 5,25% 5,75% 6,00% 6,25%
> 100 - 250 Juta 5,05% 5,30% 5,80% 6,05% 6,30%
> 250 - 500 Juta 5,10% 5,35% 5,85% 6,10% 6,35%
> 500 - 1 Milyar 5,15% 5,40% 5,90% 6,15% 6,40%
> 1 Milyar 5,25% 5,50% 6,00% 6,25% 6,50%
No. Jenis Kredit Suku Bunga  
1 Modal Kerja konstruksi 13,00 % p.a  
2. Modal Kerja Perdagangan ( Sistem Angguran ) 13,00 % p.a  
3 Modal Kerja Perdagangan (Revolving/RC) 13,00 % p.a  
      Selengkapnya ...
Home
 
Email Forum Diskusi Kontak Buku Tamu
  SBDK Detail Birate: 6.50% [21-07-16] Kurs: USD-13,442 SGD-9,503 JPY-11,708 GBP-16,345 EUR-14,268 AUD-10,175 SAR-3,585 [15-03-2017] Detail . . .




BI Rate dan Ekonomi Nasional
Senin, 22 Februari 2016
Sumber : http://www.koran-sindo.com

Untitled Document

Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI), Kamis (18/2), memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuan BI Rate menjadi 7%.

Penurunan suku bunga acuan ini merupakan yang kedua kalinya di tahun ini setelah Januari lalu BI menurunkan suku bunga dari 7,5% menjadi 7,25%. Selain menurunkan suku bunga acuan, bank sentral juga menurunkan giro wajib minimum (GWM) primer dalam rupiah dari 7,5% menjadi 6,5%. Penurunan suku bunga ini merupakan respons BI untuk menambah likuiditas di pasar domestik dan lebih menggairahkan perekonomian nasional.

Selain itu penurunan suku bunga juga diarahkan agar ekonomi nasional dapat tumbuh lebih baik daripada 2015 di tengah ketidakpastian perekonomian dunia yang masih akan terus terjadi di sepanjang tahun ini. Penurunan suku bunga acuan dan GWM didasarkan pada perspektif makroprudensial dengan tetap menjaga stabilitas sistem keuangan dengan mempertimbangkan sejumlah perkembangan ekonomi global, regional, dan domestik.

Perkembangan ekonomi global diwarnai perbaikan ekonomi Amerika Serikat, anjloknya harga komoditas dan minyak dunia, serta perlambatan ekonomi China. Dari sisi ekonomi domestik, pertumbuhan ekonomi triwulan IV 2015 sebesar 5,04% atau relatif menguat bila dibandingkan dengan periode- periode sebelumnya sehingga ekonomi nasional sepanjang 2015 dapat tumbuh 4,79%. Neraca transaksi berjalan tahun 2015 mencatat defisit sebesar 2,06% produk domestik bruto (PDB), relatif menipis bila dibandingkan dengan posisi di 2014 yang mencapai 3,1% PDB.

Neraca perdagangan 2015 mencatatkan surplus USD 7,5 miliar di tengah melambatnya permintaan global dan turunnya harga komoditas. Realisasi inflasi pada 2015 tercatat 3,35%. Nilai tukar rupiah melemah sekitar 10% sepanjang 2015 mengikuti pelemahan sejumlah nilai tukar mata uang negara-negara berkembang lainnya. Sejumlah indikator ini yang membuka ruang bagi bank sentral untuk mengambil kebijakan pelonggaran moneter demi mendorong pertumbuhan ekonomi di 2016.

Kebijakan BI menurunkan suku bunga acuan diharapkan dapat memberi stimulus bagi perekonomian nasional di tengah tekanan ekonomi global. Pelonggaran moneter yang diputuskan bank sentral juga sebagai upaya penguatan 10 paket kebijakan yang telah dikeluarkan pemerintah, khususnya percepatan infrastruktur, deregulasi, dan perbaikan iklim investasi. Turunnya suku bunga acuan berpotensi menggairahkan ekonomi domestik.

Ekspektasi positif terhadap pertumbuhan kredit baik modal kerja, investasi maupun konsumsi akan menjadi pemicu penguatan konsumsi dan daya beli masyarakat. Penguatan konsumsi domestik ini diharapkan mampu menjadi bantalan yang kokoh di tengah perlambatan global mengingat struktur PDB Indonesia masih didominasi konsumsi rumah tangga (sekitar 56%). Penurunan suku bunga acuan akan menjadi insentif bagi aktivitas produksi dan industrialisasi dalam negeri.

Produktivitas ekonomi di sektor- sektor strategis seperti infrastruktur, properti, pertanian, dan sejumlah sektor jasa diharapkan dapat tumbuh ekspansif. Proses industrialisasi juga akan sangat terbantu dengan menurunnya suku bunga acuan untuk memperkuat aspek pendanaan investasi dan modal kerja. Industrialisasi ini tidak hanya industri-industri berskala besar, melainkan juga skala kecil menengah. Penurunan suku bunga oleh BI perlu segera direspons secara linear oleh perbankan nasional, baikperbankanBUMNmaupun swasta.

Semakin rendahnya suku bunga berarti beban bunga yang akan ditanggung pelaku usaha nasional akan semakin rendah. Harapannya biaya produksi nasional akan menurun dan produk nasional lebih kompetitif di pasar ASEAN. Kebijakan makroprudensial lainnya selain penurunan suku bunga yang diputuskan bank sentral adalah menurunkan GWM sebesar 100 bps menjadi 6,5%.

Penurunan GWM akan menambah likuiditas perbankan di pasar. Penambahan likuiditas perbankan ini menjadi penopang kebijakan penurunan suku bunga acuan. Dengan penambahan likuiditas, realisasi penurunan suku bunga perbankan baik lending maupun deposit akan semakin terakselerasi. Dengan demikian perbankan diharapkan dapat mendorong kreditnya di sektorsektor strategis sehingga pertumbuhan ekonomi nasional dapat terjaga positif.

Kebijakan pelonggaran moneter melalui penurunan suku bunga acuan dan GWM juga diharapkan dapat mempercepat pendalaman pasar keuangan lainnya. Ekspektasi terhadap pertumbuhan aktivitas di pasar modal seiring dengan turunnya suku bunga sehingga para pemodal akan merelokasi sebagian dananya untuk instrumen investasi lainnya selain dalam bentuk deposito perbankan.

Akselerasi pertumbuhan kredit perbankan di pasar domestik dan pendalaman pasar keuangan diharapkan membawadampakyanglebihcepatbagi penguatan dan pertumbuhan ekonomi nasional. Saat ini tersedia berbagai produk keuangan alternatif selain tabungan dan deposito. Tentunya bauran kebijakan moneter yang diambil oleh bank sentral memerlukan koordinasi yang kuat dengan kebijakan fiskal dan sektor riil. Pelonggaran moneter perlu diikuti dengan perluasan aktivitas-aktivitas ekonomi yang produktif dan bernilai tambah tinggi.

Tentunya transmisi ke sektor-sektor riil membutuhkan koordinasi lintas sektor untuk mempercepat dampak dari pelonggaran moneter ini. Perbankan nasional perlu segera melakukan penyesuaian suku bunganya melalui penurunan suku bunga deposit dan suku bunga kredit.

Dengan penurunan suku bunga ini, sektor-sektor usaha dapat lebih bergairah, UMKM dapat diperkuat, dan konsumsi rumah tangga kembali menguat. Selain itu pelonggaran kebijakan moneter ini juga membutuhkan respons yang cepat dari sejumlah kementerian teknis untuk mengidentifikasi aktivitas-aktivitas produksi yang bernilai strategis (selain kebijakan percepatan infrastruktur dan perbaikan iklim investasi).

Industrialisasi dan hilirisasi dapat didorong di sektor masing-masing mengingat pelonggaran moneter ini bisa menjadi momentum yang tepat dalam mendorong penguatan daya saing nasional.

 

http://www.koran-sindo.com

 
 
 
Copyright © Bank Papua 2010  
   
Jl. Ahmad Yani no. 5-7 Jayapura - Papua - Indonesia  
Kode pos : 99111