Nominal (Rp.) Rate (%)  
Simpeda < 100.000,- 0 % p.a  
(Bunga Harian ) > 100.000 - 100 Jt 1.00 % Selengkapnya ...
Simanja < 100.000,- 0 % p.a  
(Bunga Terendah) > 100.000 - 100 Jt 1.50 %  
  Nominal (Rp.) Jenis Giro (%)  
Giro Pemda < 100 Juta 0 %  
  > 100 Juta - 1 Milyar 0.75 % Selengkapnya ...
Giro Umum < 50 Juta 0 %  
  > 50 Juta - 500 Juta 0.50 % Selengkapnya ...
         
  Rate
  1 Bln 3 Bln 6 Bln 12 Bln 24 Bln
1 Juta - 100 Juta 5,00% 5,25% 5,75% 6,00% 6,25%
> 100 - 250 Juta 5,05% 5,30% 5,80% 6,05% 6,30%
> 250 - 500 Juta 5,10% 5,35% 5,85% 6,10% 6,35%
> 500 - 1 Milyar 5,15% 5,40% 5,90% 6,15% 6,40%
> 1 Milyar 5,25% 5,50% 6,00% 6,25% 6,50%
No. Jenis Kredit Suku Bunga  
1 Modal Kerja konstruksi 13,00 % p.a  
2. Modal Kerja Perdagangan ( Sistem Angguran ) 13,00 % p.a  
3 Modal Kerja Perdagangan (Revolving/RC) 13,00 % p.a  
      Selengkapnya ...
Home
 
Email Forum Diskusi Kontak Buku Tamu
  SBDK Detail Birate: 6.50% [21-07-16] Kurs: USD-13,391 SGD-9,595 JPY-12,029 GBP-16,786 EUR-14,301 AUD-10,198 SAR-3,570 [03-04-2017] Detail . . .




Perbankan ASEAN Pasang Kuda-kuda
Rabu, 13 April 2016
Sumber : http://www.republika.co.id

Untitled Document

Upaya menuju integrasi sektor keuangan negara-negara di Asia Tenggara (ASEAN) mulai bergulir. Persaingan industri perbankan, khususnya bank komersil, ham pir pasti semakin sengit. Apalagi, tidak hanya menghadapi persaingan dari se sama bank di kawasan, tapi juga per saing an dari perbankan internasional.

Di ASEAN, keterbukaan industri perbankan sudah disepakati dalam ASEAN Banking Integrated Framework (ABIF), yang disetujui otoritas keuangan dan moneter ASEAN pada 2011. Berdasar kesepakatan tersebut, keterbukan industri perbankan di kawasan diharapkan terealisasi pada 2020 mendatang. Ber dasar kesepakatan yang sama, lima ne gara ASEAN dengan perekonomian pa ling berkembang; Indonesia, Malaysia, Singa pura, Filipina, dan Thailand diha rapkan mulai membuka pasar perbankan bagi setidaknya satu bank dari negara lain ASEAN yang sudah memenuhi ketentuan Qualified ASEAN Bank (QAB) pada 2018.

Skema dalam kerangka ABIF sebenarnya mash dalam progres, tergantung pada perubahan situasi dan kondisi per ekonomian. "Tapi yang terpenting adalah sudah tercapai semacam konsesus jalan inilah yang akan ditempuh (terkait keterbukaan pasar dan integrasi industri perbankan di ASEAN)," ungkap ekonom Asian Development Bank (ADB), Thiam Hee Ng seperti dilansir asia.nikkei.com, akhir pekan lalu. Melalui ABIF pula di harapkan dapat segera terwujud standardisasi regulasi perbankan dan sistem pembayaran di ASEAN.

Ditambahkannya, upaya integrasi perbankan di kawasan jelas menjadikan persaingan perbankan di ASEAN sema kin sengit, apalagi banyak perbankan internasional mengurangi kehadirannya di ASEAN demi meningkatkan profit. Sebut saja misalnya HSBC Bank. Pada 2012 lalu, HSBC sudah menjual operasional ritelnya di Thailand ke Bank of Ayu dhya (Grup Krungsri). Di Thailand, HSBC kini hanya mengelola pembiayaan kor porasi dan perdagangan saja. "Asia Pasific adalah kawasan sangat penting bagi fokus kami," ungkap Kelvin Tan, Chief Executive HSBC Thailand dikutip asia.nikkei.com. Strategi HSBC di ASEAN ke depan, menurut Kelvin, adalah melirik Kamboja, Laos, Myanmar, dan Vietnam (CLMV).

Strategi serupa juga diterapkan ANZ Bank. Meski sudah beroperasi di sembilan dari sepuluh negara ASEAN, namun dengan tujuan mendongkrak profit, ANZ agaknya hanya akan fokus pada sebagian negara ASEAN. "Fokus kami di Asia sebenarnya tidak berubah. Tapi kami sedang memasuki sebuah fase perkembangan baru, menggenjot profit dari investasi yang sudah ditanamkan sejak 2007. Kami satu-satunya bank internasional yang su dah hadir di kawasan CLMV plus Thai land. Kami akan melirik peluang bagi klien multinasional yang siap mengembangkan bisnis di kawasan tersebut," tutur Farhan Faruqui, CEO International Banking ANZ.

"Keadaan seperti itu berarti terbuka peluang lebih luas bagi perbankan re gional, sekaligus mempercepat proses in tegrasi keuangan dan perbankan ter kait Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)," jelas Thiam. Malaysia dan Thailand agak nya ingin lebih dulu me manfaatkan pe luang tersebut. Bank sentral kedua negara sudah mendiskusi kan kemungkinan itu.

Dua bank Malaysia; CIMB dan RHB Bank sudah beroperasi di Thailand. Sedangkan Bangkok Bank, bank dengan aset terbesar di Thailand, sudah mem buka cabang di Kuala Lumpur. Berdasar kesepakatan QAB, bank-bank tersebut akan diperlakukan setara dengan bank lokal, tanpa batasan yang lazim diberlakukan pada bank asing di suatu negara misalnya hanya dibatasi satu cabang saja. Ini berarti bank Malaysia yang ber operasi di Thailand bisa membuka lebih dari satu cabang. Begitu pula sebaliknya. Indonesia pun tak mau ketinggalan.

Akhir Maret lalu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Indonesia menandatangani kesepahaman serupa dengan Bank of Thailand (BoT), bank sentral Thailand. Menurut Ke tua Dewan Komisioner OJK, Mu liaman Hadad, kerja sama ini selain un tuk membuka jalan bagi industri jasa ke uangan Indonesia mengembangkan bisnisnya di Thailand melalui kehadiran institusi perbankan di kedua yurisdiksi, juga untuk meningkatkan hubungan dagang antar kedua negara.

"Potensi bisnis di Thailand sangat besar karena Indonesia adalah mitra dagang nomor tiga Thailand. Kami mendukung pelaku industri keuangan Indo nesia untuk mengembangkan bisnis ke Thailand untuk mendukung perdagang an Indonesia dan Thailand," ungkap Mu liaman dalam keterangan pers OJK. Mu liaman menambahkan upaya OJK mendukung institusi perbankan untuk me ngem bangkan usaha ke Thailand akan diikuti dengan penyusunan nota Kese pa haman OJK-BoT terkait peng awasan. "Kerja sama Thailand dan Indonesia merupakan dasar penting bagi kedua negara guna keterbukaan akses bagi perbankan asli ASEAN di sesama negara anggota, sekaligus menciptakan fleksibilitas bagi operasional perbankan ma sing-masing. Keberadaan bank sesuai QAB merupakan langkah signifikan mening kat kan hubungan bisnis demi memfasilitasi pertumbuhan ekonomi dan integrasi keuangan kedua negara," begitu siaran pers Bank of Thailand dilansir Bangkok Post.

Kuda-kuda
Thailand, Indonesia, dan Malaysia. Industri perbankan di ketiga negara ini barangkali termasuk yang paling dulu pasang kuda-kuda, ambil ancang-ancang memanfaatkan peluang keterbukaan in dustri perbankan ASEAN. Thailand mi sal nya. Selain di negara-negara lebih ma ju seperti Indonesia dan Malaysia, perbankan negeri gajah putih itu juga mulai melirik kawasan CLMV. Ketika pereko nomian Thailand melambat lantaran menu run nya ekspor, maka peluang ter besar adalah ekspansi ke CLMV yang da lam tiga tahun terakhir ekspornya terus me ning kat.

Bangkok Bank, tahun lalu sudah ma suk di Kamboja dan Myanmar. Begitu ju ga Krungsri yang dimiliki Bank of Tokyo- Mitsubishi UFJ (BTMU), Jepang. Krung sri kini hadir di Myanmar melalui cabang BTMU di Yangon. "Kami bisa me nikmati pertumbuhan ekonomi (Myan mar) khu susnya terkait pembia yaan ritel dan konsumen," ungkap CEO dan Presi den Krung sri, Noriaki Goto. Di Kamboja, Krungsri juga sudah meng akuisisi Hattha Kaksekar, lembaga ke uangan mikro ter besar keempat negara itu.

Perbankan Indonesia pun mulai pasang kuda-kuda. Direktur Treasury dan Markets Bank Mandiri, Pahala N Man sury, dalam konferensi persnya, Ka mis (7/4), di Jakarta, menegaskan selain di dalam negeri, pengembangan bisnis di ASEAN menjadi salah satu fokus Bank Mandiri tahun ini. "Memang fokusnya kita ke ASEAN ke depan. Jadi ketika ada new operation nanti pasti bu kanya di wila yah ASEAN," kata Pa hala. Negara ASEAN seperti Singa pura, misalnya, me miliki potensi pertumbuhan yang tinggi yang dapat mendukung bisnis Bank Mandiri ke depan.

Pertumbuhan cabang Singapura diyakini bisa tumbuh sampai 26 persen. Selain penyaluran kredit, pihaknya juga berharap pertumbuhan simpanan. Pada sisi simpanan pihaknya berharap akan lebih tumbuh setelah berlakunya QAB. "Sekarang kami hanya boleh menerima simpanan diatas 250 ribu dolar Singa pura. Jika QAB berlaku maka dapat me nerima tabungan ritel," ujarnya dilansir Republika.co.id. Hingga akhir 2015, kantor luar negeri Bank Mandiri mencatatkan aset sebesar lebih dari tiga miliar dolar AS dengan total pendapatan mencapai 100 juta dolar AS.

Malaysia pun tak mau ketinggalan. Malayan Banking Berhad (Maybank) sudah melansir cetak biru lima tahun ke depan, bertitel 'Maybank 2020'. Fo kusnya tak lain menjadi bank teratas bagi komunitas ASEAN. "Dalam lima tahun ter akhir, kami tumbuh sekitar lima per sen per tahun. Pastinya kami tidak akan mengabaikan peluang domestik, tapi kami paham peluang di negara-negara lain ASEAN sudah benar-benar terbuka," ungkap Chairman Maybank Tan Sri Me gat Zaharuddin Megat Mohd Nor, seperti dikutip New Strait Times Online. CEO Maybank Datuk Abdul Farid Alias menambahkan dalam lima tahun ke depan, Maybank akan terus memperkuat posisinya di ASEAN, termasuk kapabilitas dalam keuangan Islami. Tahun lalu, total aset Maybank Syariah mencapai 36,42 miliar dolar AS, menjadikannya bank Islami terbesar Asia dan Malaysia, serta kelima terbesar dunia.

Industri perbankan di Indonesia, Thailand, dan Malaysia jelas mulai pa sang kuda-kuda menyambut tantangan dan peluang keterbukaan perbankan ASEAN. Hanya saja, menurut Ambreesh Srivastava, kepala intitusi finansial lembaga pemeringkat Fitch di Asia Se latan dan Asia Tenggara, sebagian perbankan negara ASEAN belum akan tertarik memasuki kawasan CLMV. Hanya Thailand yang terlihat agresif memasuki kawasan ini. "Bagi perbankan negara lain ASEAN mungkin akan tertarik masuk CLMV, tapi belum akan berdampak besar," ujarnya.

Bagi bank-bank besar asal Singapura seperti DBS Bank, Oversea-Chinese Banking Corp. dan United Overseas Bank, serta tiga besar perbankan Ma laysia seperti Maybank, CIMB, Public Bank, kemungkinan besar akan lebih tertarik memasuki pasar Indonesia dan Filipina. "Di ASEAN jelas perbankan akan mencari pasar yang lebih gemuk seperti Indonesia dan Filipina," tambah Srivastava.

Faktanya, kebanyakan perbankan di ASEAN sangat mendominasi pasar do mestiknya. Tiga besar perbankan Singa pura dicatat Nikkei mengendalikan sam pai sekitar 80 persen aset sistem per bank an domestik. Di Malaysia dan Thailand, empat teratas perbankan mengua sai lebih dari 60 persen pasar do mestik. Jadi, meski dibawah naungan platform QAB, perbankan ASEAN kemungkinan masih mengalami kesulitan dalam persaingan berebut pasar di ne gara lain ASEAN. Mungkin saja masuk ne gara lain ASEAN dengan satu atau dua cabang, tapi mungkin belum akan me rebut terlalu banyak pangsa pasar di ne gara yang bersangkutan. Terlepas dari berapa besar pangsa yang bakal diraih, kuda-kuda yang mulai dipasang industri perbankan ASEAN adalah sebuah keha rusan. Setidaknya supaya tetap menjadi tuan rumah di negeri sendiri.   Oleh Agung P Vazza

 

http://www.republika.co.id

 
 
 
Copyright © Bank Papua 2010  
   
Jl. Ahmad Yani no. 5-7 Jayapura - Papua - Indonesia  
Kode pos : 99111