Nominal (Rp.) Rate (%)  
Simpeda < 100.000,- 0 % p.a  
(Bunga Harian ) > 100.000 - 100 Jt 1.00 % Selengkapnya ...
Simanja < 100.000,- 0 % p.a  
(Bunga Terendah) > 100.000 - 100 Jt 1.50 %  
  Nominal (Rp.) Jenis Giro (%)  
Giro Pemda < 100 Juta 0 %  
  > 100 Juta - 1 Milyar 0.75 % Selengkapnya ...
Giro Umum < 50 Juta 0 %  
  > 50 Juta - 500 Juta 0.50 % Selengkapnya ...
         
  Rate
  1 Bln 3 Bln 6 Bln 12 Bln 24 Bln
1 Juta - 100 Juta 5,00% 5,25% 5,75% 6,00% 6,25%
> 100 - 250 Juta 5,05% 5,30% 5,80% 6,05% 6,30%
> 250 - 500 Juta 5,10% 5,35% 5,85% 6,10% 6,35%
> 500 - 1 Milyar 5,15% 5,40% 5,90% 6,15% 6,40%
> 1 Milyar 5,25% 5,50% 6,00% 6,25% 6,50%
No. Jenis Kredit Suku Bunga  
1 Modal Kerja konstruksi 13,00 % p.a  
2. Modal Kerja Perdagangan ( Sistem Angguran ) 13,00 % p.a  
3 Modal Kerja Perdagangan (Revolving/RC) 13,00 % p.a  
      Selengkapnya ...
Home
 
Email Forum Diskusi Kontak Buku Tamu
  SBDK Detail Birate: 6.50% [21-07-16] Kurs: USD-13,391 SGD-9,595 JPY-12,029 GBP-16,786 EUR-14,301 AUD-10,198 SAR-3,570 [03-04-2017] Detail . . .




KUR tak Lagi Menjadi Dominasi Perbankan
Selasa, 17 Mei 2016
Sumber : http://www.republika.co.id

Untitled Document

REPUBLIKA.CO.ID, Selama ini penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) masih menjadi dominasi sektor perbankan. Bahkan, untuk menyalurkan dana KUR pada tahun ini pemerintah menambah jumlah institusi bank penyalur KUR menjadi 19 bank.

Ke-19 bank tersebut di antaranya 7 Bank Pembangunan Daerah (BPD), yakni BPD Kalimantan Barat, BPD Nusa Tenggara Timur, BPD Yogyakarta, BPD Sulawesi Selatan, BPD Sulawesi Barat, BPD Jawa Tengah, dan BPD Sumatra Utara. Dari bank pemerintah di antaranya adalah Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Mandiri, dan Bank Negara Indonesia (BNI). Sementara sisanya adalah perbankan swasta yang memiliki persyaratan dan kriteria untuk menyalurkan KUR.

Namun penyaluran KUR tidak lagi akan menjadi dominasi lembaga perbankan saja. Pemerintah melalui Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) telah meminta lembaga koperasi untuk ikut terlibat dalam penyaluran KUR.

Tiga koperasi di Indonesia akan menjadi penyalur KUR, yaitu Kospin Jasa (Pekalongan), Koperasi UGT Sidogiri, dan Koperasi Simpan Pinjam Karya Peduli (Jakarta). Deputi Bidang Pembiayaan Kementerian Koperasi dan UKM Braman Setyo mengungkapkan persetujuan itu segera diberikan kepada tiga koperasi tersebut. 

"Kospin Jasa menjadi penyalur KUR konvensional, Sidogiri sebagai penyalur KUR syariah, sedangkan KSP Karya Peduli sebagai penyalur KUR khusus TKI yang ada di luar negeri," kata Braman di Jakarta baru-baru ini.

Menurut Braman, persyaratan koperasi untuk menjadi penyalur KUR pada dasarnya sama dengan bank dan lembaga keuangan non bank (LKNB). Sejumlah persyaratan itu di antaranya, jumlah kredit macet di bawah 5 persen, portofolio kredit di atas 5 persen, memiliki sistem online dengan Sistem Informasi Kredit Program (SIKP), dan memiliki kerja sama pembiayaan dengan Kementerian Koperasi dan UKM sebagai Kuasa Pengguna Anggaran (KPA).

"Syarat tambahan untuk koperasi adalah kondisi koperasi itu harus dinyatakan sehat, baik dari sisi solvabilitas dan rentabilitasnya. Selain itu, koperasi harus menyalurkan kepada anggota koperasi, bukan calon anggota. Misalnya, jumlah anggota 5.000 orang, data itu masuk ke SIKP. Jika ada nama di luar yang 5.000 itu, maka pengajuan kreditnya akan ditolak," kata Braman.

Dibandingkan koperasi lainnya, menurut Braman, yang sudah benar-benar siap menyalurkan KUR, yakni Kospin Jasa. Koperasi UGT Sidogiri dan KSP Karya Peduli kata dia, masih sedang membenahi sistem online.

"Memang harus diakui bahwa kendala utama bagi koperasi untuk menjadi penyalur KUR adalah sistem online. Kospin Jasa sudah kerja sama sistem online dengan Jamkrida Jateng. Nantinya akan juga sistem online dengan Jamkrindo. Kospin Jasa tinggal selangkah lagi, yaitu nota kesepahaman dengan Kementerian Koperasi dan UKM," kata Braman.

Menurut Ketua Umum Kospin Jasa Andi Arslan Djunaid selama ini pihaknya sudah menyalurkan pinjaman usaha mencapai Rp 3 triliun per tahun. Dengan jumlah plafon KUR yang ditetapkan Kementerian Koperasi dan UKM sebesar Rp 200 miliar diakui Andi tidaklah terlalu sulit bagi Kospin Jasa untuk menyalurkannya.     

Selain menyalurkan pinjaman usaha kepada pelaku UKM di dalam negeri, kata Andi, Kospin Jasa juga sudah merambah penyaluran pinjaman kepada para tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri. Menurutnya, pasar TKI ini sangat menjanjikan dan belum tergarap dengan maksimal. "Saat ini kami mengkover 4.000 TKI di Malaysia," ujarnya kepadaRepublika.co.id, Selasa (17/5).

Kendati dari segi infrastruktur Kospin Jasa sudah siap, namun ungkap Andi tidaklah mudah bagi lembaga koperasi untuk ikutserta menyalurkan dana KUR. Diakuinya, secara hitungan bisnis, program KUR ini tidak menguntungkan.

Andi menuturkan, dengan patokan bunga KUR saat ini 9 persen, hitungan biaya dana (cost of fund) yang harus dikeluarkan Koperasi akan sangat tinggi. Selain itu mekanisme pembayaran reimbursement subsidi bunga KUR dari pemerintah kepada lembaga koperasi penyalur KUR belum memiliki kejelasan.

"Apalagi selama ini kredit yang disalurkan oleh koperasi tidak ada lembaga yang menjaminnya kalau terjadi kredit macet, tidak seperti halnya kredit yang disalurkan oleh perbankan," tuturnya.

Saat ini diakui Andi, suku bunga pinjaman yang diberikan oleh koperasi belum sekompetitif yang diberikan oleh industri perbankan. Jika perbankan secara umum bisa memberikan suku bunga kredit berkisar 8-9 persen, maka menurutnya, suku bunga pinjaman yang bisa ditawarkan koperasi rata-rata berkisar 18-24 persen.

Meski tidak menguntungkan secara bisnis, namun menurut Andi, dengan dilibatkannya lembaga koperasi dalam program KUR ini bisa memberikan pilihan suku bunga pinjaman bagi anggota koperasi maupun pelaku UKM yang selama ini mengakses pembiayaan koperasi. "Tentunya mereka yang menginginkan bunga rendah bisa memilih produk KUR," ujarnya.

 

http://www.republika.co.id

 
 
 
Copyright © Bank Papua 2010  
   
Jl. Ahmad Yani no. 5-7 Jayapura - Papua - Indonesia  
Kode pos : 99111